Loading...

Maktabah Reza Ervani

15%

Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000



Judul Kitab : Agama Jawa - Detail Buku
Halaman Ke : 461
Jumlah yang dimuat : 577
« Sebelumnya Halaman 461 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi
Arabic Original Text
Belum ada teks Arab untuk halaman ini.
Bahasa Indonesia Translation

7. Pada tingkat pengalaman dan eksistensi tertinggi, semua orang adalah satu dan sama. Tidak ada individualitas, karena rasa, aku dan Gusti adalah “objek abadi” yang sama dalam semua orang. Walaupun pada tingkatan pengalaman sehari-hari, individu- individu dan bangsa-bangsa dapat dikatakan memiliki kedirian yang berbeda dan perasaan yang berbeda pula (sekalipun bahkan di sini ada sebuah unsur bersama yang penting), mereka pada dasarnya sama. Kombinasi pengertian ini dengan ide mengenai hirarki yang didasarkan atas prestasi rohaniah menimbulkan sebuah etika yang menganjurkan keterlibatan yang terus meningkat dalam merasakan perasaan orang lain, dimulai dari keluarga sendiri, lalu para tetangga, desa, distrik dan negara sampai ke seluruh dunia (hanya beberapa orang suci saja—Gandhi, Isa, Muhammad—- yang dianggap telah mencapai simpati universal seperti itu) dan sebuah pandangan organik feodal tentang organisasi sosial, dimana individu serta kelompok mempunyai tempat di masyarakat sesuai dengan anggapan tentang kesanggupan rohaniah mereka. 8. Karenatujuan semua manusia seharusnya adalah mengalami rasa, maka sistem religi, kepercayaan dan praktik-praktiknya hanyalah alat untuk mencapai tujuan itu dan hanya baik sepanjang semua itu bisa membawa ke sana. Ini menimbulkan pandangan yang relativistik terhadap sistem-sistem seperti itu, dimana beberapa sistem dianggap memang baik untuk beberapa orang dan yang lain baik bagi orang-orang lain serta emuanya memiliki beberapa kebaikan untuk seseorang. Dengan demikian, toleransi mutlak itu diperintahkan, meskipun tidak selalu dipraktikkan dengan sempurna. 1. Hubungan Internal Antara Duka dan Bahagia Dalam bagian abangan, saya pernah mengutip seorang muda yang isterinya baru saja meninggal dan menekankan perlunya menjaga perasaan agar jangan bergejolak serta menghindari buaian perasaan yang tak menentu. Ia mengatakan, cara melakukannya adalah dengan menyadari bahwa setiap orang memiliki masa bahagia dan masa duka. Dalam membicarakan priyayi, saya juga telah mengutip penyair Mojokuto mengenai hal yang sama. Tema ini muncul terus dalam berbagai wawancara dengan anggota berbagai sekte.


Beberapa bagian dari Terjemahan di-generate menggunakan Artificial Intelligence secara otomatis, dan belum melalui proses pengeditan

Untuk Teks dari Buku Berbahasa Indonesia atau Inggris, banyak bagian yang merupakan hasil OCR dan belum diedit


Belum ada terjemahan untuk halaman ini atau ada terjemahan yang kurang tepat ?

« Sebelumnya Halaman 461 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi