Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
Saya mengatakan, ilmu ini (yang telah dipelajarinya dari para guru dan buku-buku) juga mengajarkan bahwa orang tak bisa bahagia sepanjang masa—selalu saja ada kedukaan. “Misalnya”, katanya, “ketika kita baru saja kawin, merasa bahwa segala sesuatu akan menyenangkan dan kita tak akan merasa susah lagi. Akan tetapi, kita toh merasa susah juga. Seseorang membangun pabrik dan mengatakan kepada dirinya sendiri, 'kini aku bahagia, aku telah memperoleh apa yang aku inginkan'. Akan tetapi, orang lain yang miskin, mendirikan pabrik kecil dan orang tadi mulai khawatir kalau pabrik kecil itu berkembang pesat kemudian menyaingi pabriknya, sehingga ia merasa sedih lagi. Ilmu saya mengajarkan bagaimana menghindari perasaan serupa itu—jangan iri bati, cemburu atau tamak”. Terkadang tampak bahwa apa yang paling ditakuti priyayi adalah perasaan yang kuat, karena hal ini mengandung frustrasi yang parah dan membawa kemungkinan lepasnya agresi yang dikekang dengan hati-hati atau awal dari depresi yang intensif. Gela yang berarti "kecewa" dan kaget yang berarti terkejut, adalah dua perasaan yang paling sering dinyatakan harus dihindari, karena yang pertama menimbulkan rasa susah, sedangkan yang kedua menimbulkan kekacauan. Pada kenyatannya, keduanya adalah bentuk lain dari hal yang sama, gela itu normal, artinya bukan sepenuhnya tidak terduga, frustasi, sedangkan kaget itu mendadak, frustasi yang tak terduga-duga. Orang bisa menyusun hipotesis tentang urutan psikologis yang khas seperti begit (1) Agresi tak boleh diutarakan secara langsung, (2) Karenanya, sebagian merepresinya, sebagian lagi menjadikannya topeng kepura-puraan dalam berbagai bentuk etiket: (3) Frustrasi yang parah, baik dalam bentuk gela maupun kaget, yang menempatkan individu dalam dilema yang sulit antara menyatakan perasaan agresifnya yang tiba-tiba meledak, yang reaksinya cenderung timbul dalam situasi kaget yang lebih hebat' atau membelokkan luapan kebencian itu ke dalam untuk melawan dirinya sendiri yang akan menghasilkan depresi, lebih lazim terjadi dalam situasi gela dan di kalangan priyayi, yang pertahanannya berupa pelemahan- rangsangan atau pengaturan-rangsangan terhadap kejutan biasanya lebih baik.? (4) Untuk menghindari dilema ini, seseorang mencoba menenangkan seluruh perasaannya dan menempatkan dirinya di luar kekecewaan serta kejutan itu. Apakah rangkaian tahap yang harus diakui spekulatif ini, memang nyata dan khas atau tidak—dan saya kira ada beberapa bukti bahwa memang demikian—yang pasti ialah bahwa usaha aliran mistik pertama-