Loading...

Maktabah Reza Ervani

15%

Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000



Judul Kitab : Agama Jawa - Detail Buku
Halaman Ke : 463
Jumlah yang dimuat : 577
« Sebelumnya Halaman 463 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi
Arabic Original Text
Belum ada teks Arab untuk halaman ini.
Bahasa Indonesia Translation

tama adalah untuk memenangkan fluktuasi perasaan dalam kehidupan sehari-hari serta mencapai keadaan “damai di hati”, sebuah teori yang disusun (atau didukung) dengan perincian yang eksplisit oleh mereka yang lebih berpengalaman —misalnya seperti dinyatakan oleh seorang guru Kawruh Beja di Mojokuto: “Apakah hakikat perasaan dalam hidup?” tanyanya secara retorik. “Sejak lahir sampai mati hanyalah kebahagiaan, kesusahan, kebahagiaan, kesusahan, berganti-ganti tanpa henti. Naik dan turun, bahagia dan tak bahagia—kita tak bisa hanya dalam satu keadaan selama-lamanya. Kalau ada orang bertanya, mengapa hidup ini hanya terdiri atas bahagia dan susah, maka jawabannya adalah kebahagiaan timbul karena keinginan- keinginan kita tercapai dan kekecewaan terjadi karena keinginan-keinginan itu tak terpenuhi: setiap hari, selalu saja ada keinginan yang terpenuhi serta yang tidak. Kita tak bisa menghindarinya. Saya bertanya, “Bisakah kita menghindari diri dari menginginkan sesuatu?” Jawabnya, “Tidak, tidak sepenuhnya. Kehendak adalah bagian yang tak terpisahkan dari hidup dan meniadakannya samasekali sama saja dengan meniadakan hidup. Orang sering melupakan keharusan dasar bagi kebahagiaan dan kesusahan untuk terhubung di dalam. Kalau mereka bahagia sejenak, mereka mengira akan terus-menerus bahagia: dan kalau mereka susah sebentar, mereka putusasa”. Saya bertanya kepadanya, apakah hal ini jelek. Ia mengatakan, “Ya, sebenarnya itu bukan kejahatan, tetapi itu berarti bahwa orang tidak mengerti. Lebih baik kalau mereka mengerti. Misalnya, Anda kehilangan Rp 100 dan sangat tidak senang, Anda merasa sedih di sepanjang jalan, lalu saya datang dan Anda merasa senang bertemu saya. Kita bercakap sebentar. Anda senang bercakap dengan saya karena sudah beberapa lama tak berjumpa: kemudian kita berpisah dan Anda merasa susah lagi, memikirkan Rp 200 yang hilang itu”. Ia mengatakan bahwa seringkali orang tidak mengingat kebahagiaan kecil di tengah kesusahan dan karenanya, tidak memperoleh gambaran yang benar tentang hidup.... Dalam banyak hal, perasaan selalu tak menentu—pada Suatu saat orang senang, kemudian susah: keduanya saling berhubungan, masing-masing merupakan implikasi yang diperlukan dari yang lain. Ini adalah perbedaan antara beja (“keberuntungan”, “perasaan, sensasi serta pengalaman tentang keberuntungan”) dan lawannya, cilaka (“sial”). Beja berarti bahwa orang memiliki ketertiban dan kedamaian di dalam—bukan kesenangan, bukan kesusahan—sekadar tenang. Cilaka berarti bahwa orang memiliki perasaan yang tidak menyenangkan, perasaan yang kacau dan kasar, apakah itu senang atau susah. Jadi, beja lebih baik dari kesenangan karena ia tidak mengandung implikasi berupa kesusahan. Beja adalah sebuah rasa, tetapi lebih tinggi dari rasa sehari-hari dan berbeda hakikat. Sebagai contoh perbedaan dua hal ini, ia mengatakan,


Beberapa bagian dari Terjemahan di-generate menggunakan Artificial Intelligence secara otomatis, dan belum melalui proses pengeditan

Untuk Teks dari Buku Berbahasa Indonesia atau Inggris, banyak bagian yang merupakan hasil OCR dan belum diedit


Belum ada terjemahan untuk halaman ini atau ada terjemahan yang kurang tepat ?

« Sebelumnya Halaman 463 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi