Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
“Andaikan kita kehilangan sesuatu. Orang yang tak mengerti 'Ilmu', yang tidak memperoleh petunjuk, akan marah-marah, kecewa dan umumnya jadi sedih serta susah di dalam hati. Namun orang yang tahu akan tetap tenang." Saya bertanya bagaimana hal ini mungkin kalau orang kehilangan sesuatu yang sangat penting, katakanlah, sebuah pusaka yang sudah lama berada dalam keluarga. Jawabannya, “Kita hanya perlu berkata, 'Ya, itu sudah hilang' atau kita merenung dan mengatakan, “Benda semacam itu bisa hilang, itu tidak abadi. Pada saatnya ia akan rusak juga, mengapa mesti bersusah hati tentangnya?' Misalkan, Anda memecahkan cangkir saya. Karena itu mahal, maka saya mulai merasa marah, tetapi saya dianjurkan oleh ilmu saya untuk tetap tenang dan itulah yang saya lakukan. Susah untuk percaya bahwa hal itu mungkin dilakukan, sebelum kita sendiri melakukannya.” Akan tetapi, ia menambahkan bahwa ia sendiri pun tidak selalu bisa melakukannya. 2. Persamaan Religius yang Mendasar Kalau emosi bisa ditenangkan—lewat berbagai sarana yang kini akan kita bahas—maka “di belakang” atau “di bawah" atau “di dalam” emosi itu, seseorang bisa berhadapan dengan realitas tertinggi, yakni refleksi Tuhan dalam diri: sebuah proses yang oleh penyair kita dibandingkan dengan pecahnya buah kelapa: Ada perumpamaan lain yang berlaku: Kalau, misalnya, kita mau membuat minyak kelapa— Batok kelapa itu bisa disamakan dengan bentuk luar disiplin keagamaan, Dagingnya yang putih Bisa disamakan dengan bentuk dalam disiplin keagamaan, Sedangkan minyaknya adalah kebenaran. Jadi perbuatan Membelah buah kelapa Adalah cara untuk dapat memerah Minyak yang terdapat di dalamnya. Biasanya bagian pusat dari kehidupan batin seseorang, tempat Tuhan berada dalam individu, disebut “hati" (manah). Kadang-kadang ini diidentifikasi dengan sebuah organ tertentu, misalnya hati atau jantung itu sendiri. (Beberapa orang yang lebih percaya pada takhayul tidak akan menyebut perkataan “jantung” sebagai organ karena di situlah Tuhan berada dalam individu dan berbuat begitu dapat menyebabkan