Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
desa kadang-kadang dianggap dihuni oleh makhluk halus pelindung, seringkali juga disebut danyang, yang dianggap sebagai anak-anak danyang yang utama, yang bertempat tinggal di pusat desa. Di kota Mojokuto sendiri, yang menjadi danyang desa adalah seorang pencuri, Maling Kandari, yang dimakamkan di kuburan tua sebelah timur pusat kota. Akan tetapi, sejalan dengan kemerosotan umum struktur politik desa dalam lingkungan kota, dia tak lagi memainkan peran yang teramat penting dalam benak warga kota. Hanya beberapa orang kalangan bawah yang lebih tua saja, yang agaknya tahu banyak tentang Maling Kandari. Itu pun hanya sebatas bahwa ia memperoleh kekuasaan di kawasan kota dengan jalan muslihat, penipuan dan mengadakan hubungan dengan makhluk-makhluk halus yang jahat. Di desa-desa, minat kepada danyang desa lebih besar. Misalnya, di Sumbersari, desa yang terletak di sebelah utara Mcjokglo, nama danyang-nya adalah Mbah Nur Wakit. Nur Wakit datang ke Sumbersari dari barat, dari Yogyakarta di Jawa Tengah. Raja Bragang, yang waktu itu memerintah kawasan tersebut (dalam cerita: sebenarnya, Raja Bragang yang terakhir sudah meninggal 300 tahun sebelum Sumber- sari didirikan) menghadiahkan kepadanya tanah yang belum dibabat. la menempatkan isterinya tepat di pusat daerah yang dihadiahkan kepadanya, melindunginya hanya dengan pagar daun pisang yang tipis dan melarangnya bergerak sedikit pun dari tempat itu, apa pun yang terjadi. Ila kemudian berlari mengitari desa itu untuk menentukan batas- batasnya. Sebuah topan besar bertiup, kemudian hujan turun dengan derasnya: semua pohon roboh dan tanah itu jadi bersih tanpa seorang pun perlu mengayunkan kapak. Isteri Nur Wakit, yang duduk tanpa bergerak samasekali sementara pepohonan berjatuhan di sekelilingnya, tidak mengalami cedera sedikit pun. Nur Wakit, di samping menjadi lurah, adalah juga seorang kiai, seorang ahli dan guru agama Islam. Setelah beberapa waktu, tugas menga- jarnya menjadi semakin berat. Karena itu, pekerjaannya sebaj ia serahkan kepada anaknya. Namun ketika anaknya memerintahkan beberapa murid Nur Wakit untuk mengerjakan tanahnya bagi keuntungan dirinya, Nur Wakit mengutuknya, hingga anak itu jadi buta. Walaupun menurut keturunannya, Nur Wakit adalah seorang raden mas—yaitu, seorang bangsawan—tetapi ia tak suka bergaul dengan kaum priyayi: menurut pendapatnya, mereka ini sangat angkuh serta takabur dan itulah sebabnya, ia pergi ke desa untuk hidup bersama rakyat biasa. Seperti