Loading...

Maktabah Reza Ervani

15%

Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000



Judul Kitab : Agama Jawa - Detail Buku
Halaman Ke : 51
Jumlah yang dimuat : 577
« Sebelumnya Halaman 51 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi
Arabic Original Text
Belum ada teks Arab untuk halaman ini.
Bahasa Indonesia Translation

kebanyakan santri yang serius, ia tidak menyetujui gamelan (semacam orkes tabuh-tabuhan Jawa) dan wayang. Selama ia menjabat sebagai lurah, gamelan tak bisa mengeluarkan bunyi di Sumbersari. Bahkan sekarang pun, seseorang yang mengadakan pertunjukan wayang akan jatuhsakitatau melarat. Hampir semua lurah di Sumbersari adalah orang- orang santri, demikian kata penduduk desa (seperti halnya di kota, mereka semua dianggap sebagai pencuri) dan beberapa lurah abangan hanya sanggup memerintah barang satu atau dua tahun. Bahwa pertimbangan ini tidak semata-mata teoretis dalam pikiran orang sekarang ini dapat dilihat dari catatan seorang informan abangan berikut ini: Baru saja dua bulan yang lalu ada (upacara khusus untuk anak tunggal, dimana menurut tradisi selalu disertai dengan pertunjukan wayang) di Tempel (sebuah desa)... Di sana, tak pernah ada pertunjukan wayang. Di Tempel, wayang tidak diperbolehkan, karena danyang di sana santris maka sebagai gantinya, mereka mempertunjukkan kentrung (hiburan jenis lain dimana seseorang membacakan kisah)... Kalau kita mengadakan pertunjukan wayang di Tempel, kita akan melaratj itu rnah dialami oleh mertuanya... dan oleh seseorang yang bernama Pak Setro, yang nekad mengadakan pertunjukan wayang sekalipun ada larangan.£ Nur Wakit akhirnya meninggal pada 1889 dan dimakamkan di pusat desa, tepat di tempat isterinya menanti ketika ia sedang membuka tanah, di mana ia kemudian membangun madrasahnya. Namun, seperti halnya semua danyang yang baik, ia tetap menjaga desanya. Seringkali ia bangun dari makamnya, dalam bentuk macan putih mulus, untuk memperingatkan warga desa mengenai wabah, banjir dan bencana yang mengancam. Pada saat-saat demikian, orang mungkin melihat dia secara sekilas, sedang mengais-ngais tanah dengan kuku depannya (seperti seekor kucing) di perempatan desa itu. Ia tak pernah menyerang siapapun, karena maksudnya hanya sekadar memperingatkan penduduk tentang kesulitan yang akan menimpa mereka: segera setelah ia merasa pasti bahwa ia telah dilihat orang, ia pun menghilang. Ia mengais-ngais sebentar di tiap simpang jalan untuk memastikan bahwa seseorang melihat dia. Kemudian, ia pergi ke rumah lurah—mungkin dalam mimpi—untuk memberitahukan magi apa yang harus dilakukan untuk melindungi desa itu dari bencana. Merasa lega bahwa desanya selamat, ia pun kembali lagi ke makam.


Beberapa bagian dari Terjemahan di-generate menggunakan Artificial Intelligence secara otomatis, dan belum melalui proses pengeditan

Untuk Teks dari Buku Berbahasa Indonesia atau Inggris, banyak bagian yang merupakan hasil OCR dan belum diedit


Belum ada terjemahan untuk halaman ini atau ada terjemahan yang kurang tepat ?

« Sebelumnya Halaman 51 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi