Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
Makna Kepercayaan Terhadap Makhluk Halus Bangsa alus, memedi, gendruwo, lelembut, s6tan, jim, tuyul, demit, danyang—barisan bocah-bocah gundul, macan putih dan ayam-ayam yang selalu nenghentakkan kakinya—memberikan kepada mereka yang percaya, serangkaian jawaban yang sudah tersedia terhadap pertanyaan- pertanyaan yang muncul dari berbagai pengalaman yang seperti teka- teki: piktografi simbolik dari imajinasi, yang dalam kerangka mana bahkan hal-hal yang ganjil tampak tak terhindarkan. Apakah Mbak Suwarni sudah sembuh dari sakit kepala yang telah dideritanya selama seminggu? Hal itu terjadi karena ketika ia pergi ke kakus, ada lelembut yang sedang duduk di sana, yang lalu menampar keningnya karena marah dan merasa terhina. Apakah Haji Abdullah setelah setahun kematian saudara dan isterinya lalu jadi kaya? Gabungan keadaan itu jelas mengisyaratkan adanya tuyul. Dunia makhluk halus adalah dunia sosial yang ditransformasikan secara simbolik, makhluk halus priyayi memerintah makhluk halus abangan, makhluk halus Cina membuka toko dan memeras penduduk asli, makhluk halus santri melewatkan waktunya dengan sembahyang dan memikirkan cara-cara mempersulit mereka yang tak beriman. Namun, sekalipun ada kekaburan, kontradiksi serta diskontinuitas dalam kepercayaan abangan mengenai makhluk halus, kepercayaan itujuga memberikan makna yang lebih luas dan lebih umum daripada sekadar penjelasan terpisah yang biasa orang dapatkan mengenai luka yang tak tersembuhkan, fuga-fuga psikologis serta kesialan yang tak masuk akal. Semua itu melukiskan kemenangan kebudayaan atas alam dan keunggulan manusia atas bukan manusia. Sementara kebudayaan orang Jawa berkembang dan hutan tropis yang lebat berubah menjadi tanah persawahan serta perumahan, makhluk-makhluk halus mundur ke hutan belantara yang tersisa, puncak-puncak gunung berapi dan Lautan Hindia (di mana Lara Kidul, Ratu Laut Selatan, mungkin satu-satunya lelembut Jawa yang paling berkuasa,” menunggu seseorang yang cukup bodoh dan keras kepala untuk memakai pakaian hijau di dekat rumahnya, buat ditenggelamkan ke dasar samudra). Begitu pula, bila seseorang menjadi semakin beradab dalam pola Jawa, sedikit sekali kemungkinan ia akan kosong, bingung atau tersesat, yang menyebabkannya rawan terhadap kesurupan makhluk halus: