Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
BAB 3 Siklus Slametan Slametan terbagi ke dalam empat jenis: () yang berkisar di sekitar krisis kehidupan kelahiran, khitanan, perkawinan dan kematian: (2) yang ada hubungannya dengan hari-hari raya Islam—Maulud Nabi, Idul Fitri, Idul Adha dan sebagainya, (3) yang ada kaitannya dengan integrasi sosial desa, bersih desa (secara harfiah berarti “pembersihan dasa”—yakni dari makhluk halus jahat): (4) slametan sela yang diselenggarakan dalam waktu yang tidak tetap, tergantung kepada kejadian luarbiasa yang dialami seseorang—keberangkatan untuk sebuah perjalanan jauh, pindah tempat, ganti nama, sakit, terkena tenung dan sebagainya. Sebelum membahas jenis-jenis slametan itu secara terperinci, patut dicatat adanya dua faktor yang umum untuk semua jenis itu: pertama, prinsip yang mendasari penentuan waktu slametan dan kedua, arti ekonomi slametan. Petungan: Sistem Numerologi Orang Jawa Waktu slametan kelahiran ditetapkan menurut peristiwa kelahiran dan slametan kematian ditetapkan menurut peristiwa kematian itu. Namun, orang Jawa tidak menganggap peristiwa itu sebagai sebuah kebetulan. Peristiwa itu dianggap sudah ditentukan oleh Tuhan, yang menetapkan secara pasti perjalanan hidup setiap orang. Ketika BratasEna, si tokoh wayang, muncul di surga setelah mati dengan sengaja dalam sebuah kisah yang telah kita sebut sebelumnya, Batara Guru, raja sekalian dewa, menegur dia karena kelancangannya menghabiskan umur sebelum saat yang ditetapkan untuknya tiba. Dewa itu lalu mengirimnya kembali ke dunia manusia. Upacara khitanan dan perkawinan—seperti juga pergantian tempat tinggal dan semacamnya—tampaknya perlu ditetapkan dengan kehendak manusia: tetapi di sini pun penetapan