Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
segala sesuatu “menurut kemauan saya sendiri”, saya akan salah jalan dan karenanya, isteri saya harus jadi kepala keluarga. Sistem petungan juga digunakan untuk menentukan dari arah mana orang harus masuk rumah kalau ingin mencuri tanpa ketahuan, untuk menentukan di sebelah mana orang harus duduk dalam arena adu ayam supaya menang dalam taruhan, untuk meramalkan apakah orang akan untung atau rugi dalam perdagangan di hari tertentu, untuk memilih obat yang tepat bagi suatu penyakit, untuk menentukan hari baik buat khitanan dan perkawinan (biasanya sampai kepada jam yang tepat dimana upacara harus dilangsungkan) serta untuk meramalkan apakah sebuah perkawinan yang direncanakan bisa terlaksana atau tidak. Untuk yang terakhir ini, hari lahir pengantin perempuan dan pria akan dijumlahkan, nyaris selalu oleh seorang dukun, untuk melihat apakah mereka cocog: kalau tidak, perkawinan tak akan berlangsung, paling tidak begitu di kalangan tradisional yang kepercayaannya terhadap hal seperti ini masih kuat. Dalam beberapa kasus, konflik mungkin muncul apabila keluarga pengantin perempuan atau keluarga pengantin pria atau dukun mereka menggunakan sistem yang berlainan. Saya mengetahui adanya kasus seperti itu, dimana perkawinan—setelah melewati adu pendapat selama berbulan-bulan—akhirnya tidak terlaksana tetapi, biasanya persoalan seperti ini dihindari dengan mengikuti sistem yang digunakan keluarga si perempuan. Demikian pula, orang tidak segan menggunakan petungan sebagai jalan keluar dari sebuah situasi yang sulit, seperti dalam kasus seorang perempuan yang menolak pelamar anaknya yang tidak dapat ia terima secara umum, dengan dalih bahwa tanggalnya tidak cocog, walaupun sebenarnya sesuai. Saya tahu setidaknya satu kasus dimana sebuah pasangan pada akhirnya diperbolehkan menikah walaupun ada protes dari orangtua mereka: beberapa orang begitu saja menikah, sekalipun hari lahir mereka tidak sesuai dan berharap bahwa semuanya akan berjalan baik serta mempersalahkan kemalangan apa pun yang terjadi pada kurangnya kesesuaian. Namun, pada umumnya, bahkan keluarga yang sudah menjadi orang kota pun seringkali masih memegang sistem itu kuat-kuat—seperti terlihat dalam kasus berikut, dimana yang jadi persoalan adalah masalah penentuan waktu upacara perkawinan dan bukannya hari lahir yang tidak cocok: