Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
Rahman bercerita kepada saya tentang saudara sepupunya, Mutallip, yang seharusnya menikah dengan seorang gadis di Bragang (sebuah kota kecil tidak jauh dari Mojokuto) minggu lalu. Ia sudah mengenal gadis itu selama bertahun-tahun. Mereka sebelumnya adalah teman sekolah dan sudah bertunangan selama tiga tahun. Gadis itu telah bekerja di suatu tempat dan mereka menunggu Mutallip mendapat pekerjaan tetap di Jakarta, di mana ia tinggal sekarang. Akhirnya, ia mendapatkan pekerjaan sebagai sekretaris seorang bekas menteri dan ini memungkinkan dia untuk menikah. Tanggalnya ditetapkan oleh mertua laki-lakinya dan segala sesuatunya sudah disiapkan. Tanggal perkawinan itu, hari Sabtu yang lalu, tiba dan pengantin pria datang 'dengan sangat terlambat dari Jakarta. Setelah tiba, ia mengatakan bahwa ia harus menemui beberapa orang, termasuk menteri itu sendiri, untuk meminjam uang buat Ongkos ke sini. Alasan ini dianggap masuk akal oleh bibinya, Bu Merto. Akan tetapi, kesulitannya adalah bahwa perkawinan itu direnvanakan paling lama pukul 21,00 siang, semuntara la datang Dada pukul 11.15. Mertua laki-lakinya mengatakan bahwa 3aat itu sudah terlambat, karena caat yang mujur telah lewat dan tiap perkawinan yang diselenggarakan sesudah waltu itu tak akan beruntung. Mutallip dan ayahnya, Pak Rijadi, agaknya berpikir bahwa waktu lima belas monit atau setengah jam tidak terlalu Denting, tetapi sang mertua bersikeras. Mutallip tidak herbisara langsung kepada mertuanya, tetapi hanya ke- pada ayah dan tunangannya. Ia sangat marah dan mengatakan bahwa kalau mercka tidak menikah minggu ini, maka untuk waktu yang lama, mungkin setahun, ia tak akan punya uang untuk datang lagi dari Jakarta. Ini berarti menikah sekarang atau menunggu aetahun lagi. Sang mertua tutap tidak memperkenankan dan Mutallip pulang kembali ke Jakarta. Biaya Slametan Penyelenggaraan slametan tentu saja memerlukan uang, tetapi sukar untuk membuat perkiraan tentang berapa besarnya. Bukan saja karena orang tidak menyimpan catatan mengonai pengeluaran seperti itu, tetapi Juga karena menggambarkan jumlah uang itu dalam mata uang asing benar-benar tidak banyak artinya atau justru menyesatkan, bahkan ketika orang tahu nilai kurenya. Hal ini benar bukan gaja karena kurs resmi (sekitar Rp 11.3 per dollar di Indonesia) mungkin tidak realistis, tetapi juga karena bahkan kurs bebas (sekitar 30 banding satu di tahun 1953) tidak mencerminkan perbedaan daya beli antara kedua mata uang itu sebagaimana dimengerti oleh rata-rata orang. melainkan mencerminkan perbedaan kemakmuran dua negara itu