Loading...

Maktabah Reza Ervani

15%

Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000



Judul Kitab : Agama Jawa - Detail Buku
Halaman Ke : 78
Jumlah yang dimuat : 577
« Sebelumnya Halaman 78 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi
Tabel terjemah Inggris belum dibuat.
Bahasa Indonesia Translation

Parto berbicara tentang pemberian nama: Ada tiga jenis nama yang dipakai orang, tergantung pada kelompok mana ia termasuk: nama dusun, nama priyayi atau nama santri. Anak-anak desa terkadang diberi nama begitu saja menurut hari lahirnya, misalnya, Senen atau Paing. Atau mereka menggunakan nama-nama sederhana, seperti Sidin atau Sirin. Anak-anak perempuan menggunakan nama yang sama juga, hanya dalam bentuk feminin: Sidinah, misalnya. Anak-anak priyayi tinggi biasanya menggunakan Joko-atau Bambang- di depan nama mereka, sedangkan anak-anak perempuannya memakai Endang-. Misalnya, Jokosentono: Sentosa artinya kuat. Atau Bambang Suwarno. Untuk anak perempuan, Endang Suwarni. Untuk kalangan santri, nama depan mereka sering Muhammad atau Abdul. Misalnya Muhammad Taha, Abdul Mutallip. Untuk anak-anak perempuannya, Sitti: Sitti Aminah... Saya bertanya kepadanya, bagaimana kalau orang desa menggunakan nama priyayi. Ia menjawab bahwa tak seorang pun akan berbuat demikian, karena orang akan mentertawakannya dan ia akan merasa malu. Bahkan nama seperti Sasro tidak akan digunakan: nama demikian akan digeser menjadi Sastro bagi seorang priyayi rendahan, yang berarti “seorang yang bekerja di kantor tetapi tidak punya gelar”. Orang desa tidak akan berani menggunakan nama ini, tetapi akan memakai nama Setro: mereka akan menggunakan Setrodihardjo dan bukan Sastrodihardjo. Ia mengatakan bahwa di kalangan orang desa, nama-nama bisa dieja (dan diucapkan) berbeda-beda, tergantung apakah seseorang itu santri atau tidak. Seorang abangan akan memanggil anaknya Kalil, sedangkan seorang santri memanggilnya Cholil: seorang abangan akan menyebut Katidjah, sedangkan santri Chotizah. Terkadang seorang desa yang beragama Kristen akan menggunakan nama rasul-rasul Kristen, seperti Daniel, Musa dan sebagainya. Namun orang Kristen yang berkedudukan tinggi, seperti yang ada di sekitar Mojokuto, akan menggunakan nama- nama priyayi. Karena orang Jawa begitu mudah mengganti nama mereka— sesudah sakit keras, pada waktu nikah, sesudah naik haji ke Mekkah, ketika memperoleh pekerjaan baru, pada saat kelahiran anaknya—maka mereka mudah menyesuaikan diri dengan setiap mobilitas sosial atau perubahan kesetiaan. Barangkali nama yang paling umum dipakai anak- anak abangan adalah Slamet, seringkali sebagai akibat dari perubahan nama ketika anak itu mengidap penyakit kanak-kanak. Perubahan itu dimaksudkan sebagai sarana penyembuhan. Kategori-kategori ini tidak berlaku mutlak, tetapi jelas tertanam dalam benak orang, seperti ketika saya menyebut seorang pejabat tinggi yang saya tahu bernama Paidjan (nama yang jelas-jelas abangan), orang yang saya ajak bicara


Beberapa bagian dari Terjemahan di-generate menggunakan Artificial Intelligence secara otomatis, dan belum melalui proses pengeditan

Untuk Teks dari Buku Berbahasa Indonesia atau Inggris, banyak bagian yang merupakan hasil OCR dan belum diedit


Belum ada terjemahan untuk halaman ini atau ada terjemahan yang kurang tepat ?

« Sebelumnya Halaman 78 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi