Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
(seorang santri) mengomentari, “wah, ini benar-benar era baru— sebelum revolusi, Anda tak akan pernah nenemukan seorang priyayi bernama Paidjan: ia pasti sudah mengubahnya”. Dan kebanyakan orang memang masih berbuat demikian. Sebenarnya, penentuan waktu pasaran tergantung pada saat terlepasnya sisa tali pusar si anak. Kalau pada hari kelima belum lepas juga, pasaran harus ditunda sampai hari keenam atau bahkan ketujuh. Namun, ini jarang terjadi dan saya jarang menemui pasaran yang diadakan pada hari selain hari kelima. Pada masa lalu, orang biasa mengundang beberapa santri untuk mengaji dari pukul delapan sampai tengah malam setiap hari sesudah kelahiran sampai sisa tali pusar bayi terlepas. Akan tetapi, ini jarang dilakukan sekarang, kalau pun ada— pastinya tidak pernah di kota. Praktik kuno lainnya yang sudah hilang, setidaknya di wilayah Mojokuto, adalah menyanyikan syair-syair Jawa kuno pada upacara pasaran: sekarang, orang menggantikannya dengan main kartu. Ternyata, menyanyikan syair itu biasa juga dilakukan di berbagai slametan lain pada masa sebelum perang, tetapi orang tak pernah mendengarnya lagi sekarang. Hidangan pada pasaran hampir sama dengan hidangan pada upacara tingkeban, tetapi tanpa rujak legi serta ada tambahan makanan ringan dari pasar (kerupuk ikan, berondong jagung, penganan dari beras yang diberi gula dan sebagainya). Makanan kecil yang agak tak keruan rasanya ini, yang selamanya jadi kudapan kebanyakan orang Jawa, disebut jajan. Tampaknya jajan selalu saja muncul di mana pun orang duduk-duduk untuk berbincang-bincang dengan orang lain. Kalau seorang teman kebetulan mampir—suatu hal yang memang lazim— makanan demikianlah yang dihidangkan: dalam pesta kawin, pesta tesmi pemerintah serta rapat-rapat politik juga sama: dan penganan itu dijual di lusinan warung kopi yang tersebar di sekeliling kota, di mana saban hari ratusan orang duduk dan ngobrol tak tentu selama berjam-jam. Dengan demikian, jajan adalah lambang alamiah dari interaksi sosial yang sangat dicintai orang Jawai yang di satu pihak diliputi formalitas sopan santun yang mekanis dan kepatutan yang kaku (sangat kentara di kalangan priyayi) serta di pihak lain bernuansa bising dan sembrono (sangat jelas di kalangan abangan). Jelas bahwa ini merupakan makna tertinggi yang memang dimaksudkan dalam upacara pasaran, karena jajan itu harus dibeli di pasar, tidak di warung atau di