Loading...

Maktabah Reza Ervani

15%

Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000



Judul Kitab : Agama Jawa - Detail Buku
Halaman Ke : 87
Jumlah yang dimuat : 577
« Sebelumnya Halaman 87 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi
Arabic Original Text
Belum ada teks Arab untuk halaman ini.
Bahasa Indonesia Translation

datang dan bertanya pada hari apa sunatan itu akan dilangsungkan. Pasalnya, a sebenarnya tidak punya uang samasekali dan harus menunda sunatan itu beberapa bulan lagi sampai setelah panen, ketika ia serta sanak-keluarganya sudah mempunyai beras. Perkawinan: Kepanggihan Hingga baru-baru ini, kebanyakan perkawinan pertama di Jawa masih diatur oleh orangtua mempelai perempuan maupun pria. Bahkan kalau seorang anak laki-laki berpikiran sendiri tentang gadis mana yang akan dinikahinya, ia akan melaksanakan maksudnya dengan bantuan orangtuanya—kalau ia bisa meyakinkan mereka bahwa pilihannya memang bijaksana. Ini masih merupakan pola yang berlaku di banyak kalangan yang masih tradisional serta “kolot”, tetapi pola percintaan yang romantis mulai menjadi gangguan yang makin sering dan terus terjadi di Mojokuto pada masa kini. Di kalangan kelas atas kota yang terpengaruh Belanda, orang bahkan bisa menjumpai upacara-upacara pertunangan di sana-sini, dimana cincin kawin dipertukarkan antara seorang pria dengan tunangannya. Disebut “tukar cincin”, sebuah istilah yang dipinjam dari bahasa Indonesia yang merupakan bahasa nasional baru (bagi orang Jawa) dan digunakan terutama sekali di kota-kota. Upacara tukar cincin tersebut tampaknya sejauh ini berlaku hanya di kalangan pelajar saja, yang cenderung bertunangan lama-lama sebagai akibat dari masa sekolah yang panjang. Untuk kebanyakan orang, sekalipun dalam banyak kasus, anak laki-laki dan perempuan sudah sampai kepada saling pengertian dalam halini, namun pola lama lamaran resmi dari orangtua pihak pria masih dilaksanakan, setidaknya dalam bentuk formalnya. Dalam lamaran, keluarga pihak pria mengunjungi keluarga pihak perempuan untuk saling tukar basa-basi formalisme kosong yang sudah menjadi keahlian orang Jawa sejak dulu. Ayah pihak laki-laki mungkin akan membuka percakapan itu dengan ucapan seperti ini, “embun di pagi hari berarti hujan di malam hari", yang dengannya ia bermaksud mengatakan bahwa soal yang ingin diperbincangkannya adalah soal yang “dingin” atau sederhana saja dan tidak akan membangkitkan perasaan yang bukan-bukan. Dengan perkataan dan kiasan yang sama, ia tiba pada pokok persoalan dan mengatakan bahwa ia ingin menjadi besan tuanrumah dengan mengawinkan anak laki-lakinya dengan anak


Beberapa bagian dari Terjemahan di-generate menggunakan Artificial Intelligence secara otomatis, dan belum melalui proses pengeditan

Untuk Teks dari Buku Berbahasa Indonesia atau Inggris, banyak bagian yang merupakan hasil OCR dan belum diedit


Belum ada terjemahan untuk halaman ini atau ada terjemahan yang kurang tepat ?

« Sebelumnya Halaman 87 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi