Loading...

Maktabah Reza Ervani

15%

Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000



Judul Kitab : Agama Jawa - Detail Buku
Halaman Ke : 88
Jumlah yang dimuat : 577
« Sebelumnya Halaman 88 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi
Arabic Original Text
Belum ada teks Arab untuk halaman ini.
Bahasa Indonesia Translation

perempuan tuanrumah. Pada saat itu, akan terdengar banyak keberatan yang pura-pura dari tuanrumah, bahwa anak perempuannya itu manja, walaupun sudah dewasa tetapi masih bertingkahlaku seperti anak-anak serta ia sendiri merasa bahwa puterinya jauh dari memenuhi syarat menjadi menantu tamunya dan seterusnya. Setelah sekian lama— sesudah dua atau tiga kali kunjungan seperti itu—dengan satu atau lain cara, persoalan itu akan diselesaikan juga. Sebuah pertemuan direncanakan di rumah si perempuan, dimana calon mempelai laki laki dan perempuan beserta para calon mertua hadir. Pertemuan ini disebut nuntoni—“menonton”—serta kesempatan itu ditandai dengan kepura-puraan yang sama kakunya, gadis itu, kaku karena malu, menghidangkan teh kepada sang jejaka tanpa berbicara samasekali danjejaka itu memandangnya dari sudut mata (dalam kasus tradisional, ini adalah saat pertama mereka bertemu) untuk memperoleh sebuah kesan tentang dia. Kalau ia senang dengan apa yang dilihatnya, ia akan mengatakannya kepada orangtuanya dalam perjalanan pulang dan pernikahan pun diatur. Upacara perkawinan itu disebut kepanggihan (“pertemuan”) dan se- lalu diselenggarakan di rumah pengantin perempuan. Semua orangtua, menurut teori, mempunyai kewajiban yang tak bisa dielakkan untuk menyelenggarakan satu pesta besar bagi setiap anaknya, Sunatan untuk anak laki-laki dan perkawinan untuk anak perempuan. Karena orangtua pihak perempuan harus membiayai perkawinan itu, biasanya mereka akan menunggu sampai panen sebelum menyelenggarakan upacara itu: tetapi kalau pihak lelaki tak sabar menunggu ia bisa membantu memikul sebagian dari biaya.? Kalau gagal menyelenggarakan pesta ini, ia bisa melakukan pernikahan resmi di masjid dan menunda bagian abangan dari perayaan itu barang enam bulan, sampai ia memperoleh cukup uang untuk melaksanakannya. Ini sering dilakukan, khususnya di kalangan warga kota yang miskin. Anak laki-laki menurut tradisi harus memberikan dua macam hadiah perkawinan kepada pihak perempuan: paningset yang biasanya berupa pakaian serta perhiasan dan sering diberikan dengan sebuah slametan untuk orangtua pihak perempuan, sesudah putusan perkawinan ditetapkan: dan sasrahan—biasanya berupa seekor kerbau atau sapi dan perabot rumahtangga, tetapi sekarang ini, kalau pun diberikan, biasanya sudah diperkecil sehingga menjadi beberapa alat dapur saja—yang diberikan kepada si gadis pada waktu kawin. Kedua jenis pemberian


Beberapa bagian dari Terjemahan di-generate menggunakan Artificial Intelligence secara otomatis, dan belum melalui proses pengeditan

Untuk Teks dari Buku Berbahasa Indonesia atau Inggris, banyak bagian yang merupakan hasil OCR dan belum diedit


Belum ada terjemahan untuk halaman ini atau ada terjemahan yang kurang tepat ?

« Sebelumnya Halaman 88 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi