Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
hadiah buat pengantin perempuan ini sekarang sudah agak jarang dilakukan di Mojokuto. Karena seseorang seharusnya selalu menikahkan anak-anak perempuannya menurut urutan umurnya dan itulah yang biasanya terjadi, sekalipun tidak selalu begitu, maka perkawinan anak pertama dan terakhir yang diselenggarakan oleh sebuah keluarga pada umumnya lebih besar daripada perkawinan anak-anak perempuan lainnya. Perkawinan untuk anak perempuan pertama disebut bubak, yang secara kasar mempunyai makna sama dengan kata babak: membersihkan tanah dan membuka suatu daerah perawan. Upacara untuk anak perempuan terakhir disebut punjung tumplek, atau dalam terjemahan bebasnya, “penghormatan yang penghabisan”. Sayaakan menguraikan upacara itu selengkap mungkin sebagaimana adanya, tetapi tidak termasuk praktik-praktik yang tidak dilakukan dalam setidaknya satu upacara perkawinan yang sempat saya lihat ketika saya tinggal di Mojokuto. Hendaknya diingat bahwa upacara untuk anak-anak perempuan di tengah biasanya bukan hanya kurang lengkap, tetapi juga orang-orang menghilangkan beberapa bagian upacara itu sekehendak hatinya. Pada beberapa pesta perkawinan, yang dijalankan hanyalah yang perlu-perlu saja: pengantin perempuan dan laki-laki pergi ke masjid, mengucapkan ijab, pulang ke rumah untuk saling berjabat tangan serta menyelenggarakan sebuah pesta sekuler untuk tamu-tamunya. Sebagaimana dalam islaman, slametan perkawinan diselenggarakan pada malam hari menjelang upacara yang sebenarnya. Slametan itu disebut midadareni dan kecuali do'a tradisional yang mengharapkan agar pasangan ini tak terpisahkan satu sama lain seperti mimi serta min tuna, slametan-nya sama dengan manggulan yang diselenggarakan sebelum upacara khitanan. Bedanya, pengantin perempuan hadir dalam slametan midadargni ini dan kalau si pengantin laki-laki yang datang dari jauh sudah ada di sekitar tempat tinggal pengantin perempuan, si pengantin lelaki akan tetap disembunyikan dari pandangan mempelai perempuan, karena mereka tidak diperbolehkan saling pandang sebelum pertemuan yang sebenarnya berlangsung. Sesudah slametan, pengantin perempuan mengenakan pakaian yang sangat sederhana. Apabila rumahnya model kuno yang memiliki kamar tidur upacara di tengahnya (sentong tengah—hanya sekitar lima buah rumah di Mojokuto yang masih memilikinya), gadis itu akan