Loading...

Maktabah Reza Ervani

15%

Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000



Judul Kitab : Agama Jawa - Detail Buku
Halaman Ke : 92
Jumlah yang dimuat : 577
« Sebelumnya Halaman 92 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi
Arabic Original Text
Belum ada teks Arab untuk halaman ini.
Bahasa Indonesia Translation

laki apakah ia bersedia mengawini gadis itu. Kemudian ia diminta meniru mengucapkan kalimat syahadat yang diucapkan oleh naib kata demi kata, mula-mula dalam bahasa Arab (kebanyakan orang merasa jengkel terhadap hal ini, karena mereka umumnya hanya bisa mengeja- eja secara kasar ucapan Arab itu) dan kemudian dalam bahasa Jawa. Naib kemudian memberitahukan bahwa kalau ia tidak memberi nafkah kepada isterinya, menggaulinya dan memberi tempat tinggal yang layak kepadanya, atau meninggalkannya selama tiga bulan tanpa memberitahu di mana alamatnya, gadis itu berhak mengajukan permintaan cerai. Naib lalu membaca do'a dalam bahasa Arab yang oleh para hadirin yang sedang duduk, disambut dengan menadahkan telapak tangan, wajah menengadah dalam sikap berdo'a dan mengucapkan amien sepatutnya. Naib juga menyaksikan pemberian mas kawin berjumlah lima rupiah oleh pengantin lelaki kepada wali untuk disampaikan kepada pengantin perempuan sebagaimana diwajibkan hukum Islam. Ia menyudahi tugasnya dengan menyatakan bahwa anak laki-laki itu dan gadis yang tidak hadir di sana, merupakan suami isteri yang sah. Bagi kalangan santri, ini merupakan bagian terpenting dalam per- kawinan, yang membuat perkawinan itu sah di mata Tuhan Guga di depan pemerintah, yang menganggap ijab, demikian sebutan upacara ini, sebagai upacara perkawinan yang sah menurut hukum. Ini berlaku bagi setiap orang, kecuali yang beragama Kristen). Mereka tak pernah lupa menyebut kenyataan ini dalam pidato di hadapan tamu-tamu pada resepsi resmi yang mengikutinya. Namun bagi kalangan abangan, bagian yang benar-benar penting dari upacara perkawinan itu masih akan menyusul. Tiba di rumah mempelai perempuan, pesta yang sebenarnya baru akan dimulai. Janur kuning yang dilengkungkan membentuk busur setengah lingkaran dipasang pada pintu masuk pelataran, yang menjadi pertanda bagi mereka yang lewat bahwa keluarga itu sedang “mempunyai kerja" (duwe gawe6)—yakni sedang menyelenggarakan khitanan atau perkawinan. Atap rumah diperluas sampai ke halaman untuk menaungi para tamu yang duduk di sana menghirup kopi, menikmati jajan dan berbincang tentang hal-hal yang menyenangkan. Di dalam rumah, sang puteri lagi didandani oleh kerabat-kerabat perempuannya atau oleh seorang juru rias yang disebut tukang paras. Menurut tradisi, pengantin perempuan (manten) berdandan sebagai seorang puteri ratu, sedang pengantin pria Guga disebut


Beberapa bagian dari Terjemahan di-generate menggunakan Artificial Intelligence secara otomatis, dan belum melalui proses pengeditan

Untuk Teks dari Buku Berbahasa Indonesia atau Inggris, banyak bagian yang merupakan hasil OCR dan belum diedit


Belum ada terjemahan untuk halaman ini atau ada terjemahan yang kurang tepat ?

« Sebelumnya Halaman 92 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi