Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
manten) berdandan sebagai seorang pangeran dan setiap perkawinan memerankan kembali perkawinan kerajaan. Sang puteri mengenakan gaun hitam yang dihiasi dengan bunga-bunga dan kain sarung yang sangat bagus, yang dibeli dari salahsatu ibukota kerajaan. Wajahnya dibuat kuning dengan bedak, bintik-bintik hitam kecil yang tampak seperti ujung tengah rambut, dilukis di ujung atas dahinya, sedangkan bibirnya diberi warna merah menyala. Tiga buah kalung dari perak atau bunga tergantung sampai ke dadanya, sementara perhiasan-perhiasan perak dikenakan pada telinga serta lengannya. Pengantin pria (yang dirias juga oleh tukang paras) mengenakan sarung baru dan jas hitam yang bergaris pinggir kuning. la mengenakan blangkon Jawa yang dihias dengan sebuah bros besar bertabur intan. la pun dihias dengan bunga-bunga. Di ikat pinggannya, terselip sebuah keris besar yang diberi rangkaian bunga, yang secara sadar melambangkan kemaluan lelaki. Pada zaman dulu, seorang priyayi tinggi yang mengawini gadis dari kelas yang lebih rendah (biasanya isteri kedua) tidak akan hadir dalam pesta perkawinan, tetapi hanya mengirimkan kerisnya. Anehnya, pola yang sudah usang ini hidup kembali pada waktu saya di Mojokuto. Ketika pengantin pria dari pesisir utara tidak bisa hadir di rumah mempelai perempuan di Mojokuto pada saat perkawinan, keluarga pihak perempuan yang kecewa, meyakinkan naib dengan menunjukkan surat pengantin laki-laki yang mengutarakan maksudnya untuk menikah dan gadis itu pun dinikahkan dengan fotonya. Di Mojokuto, pola busana tradisional itu kini sering ditemukan hanya di kalangan priyayi—dua contoh paling rumit yang pernah saya lihat selama tinggal di Mojokuto adalah perkawinan puteri wedana dan pensiunan Kepala Pegadaian Negeri. Apa pun yang mereka pakai dulu—dan tampaknya agak meragukan bahwa pola di atas dengan segala keramaiannya pernah tersebar secara meluas ke desa-desa—gadis-gadis abangan di Mojokuto sekarang mengenakan pakaian Barat (yang masih dikritik secara tajam sebagai mempraktikkan cara nyonyah-nyonyah— yakni cara perempuan Belanda dan para penirunya di kota-kota besar) atau yang lebih umum, mengenakan pakaian yang modelnya sama dengan pakaian sehari-hari perempuan Jawa, tetapi sedikit lebih baik kualitasnya serta ditambah bunga-bunga dan yang semacamnya. Anak lelaki abangan muncul dengan jas Barat, bersarung dan memakai pici hitam dari seberang, yang telah menjadi lambang utama nasionalisme