Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
'Semoga dua tubuh yang terpisah ini bisa saling mengerti! Leluhur laki-laki mengatakan bahwa tak ada sesuatu yang akan menimpa, Leluhur perempuan mengatakan bahwa tak ada sesuatu yang akan menimpa. Ke mana pun kalian pergi, Semoga kalian selamat (slame?), Selamat, atas kehendak Allah. Kembang mayang kini dilempar ke atap, pasangan mempelai menyalami para tamu secara bergiliran dan upacara itu pun selesai— sekalipun acara hiburan, wayang atau yang semacamnya, boleh terus berlangsung sepanjang malam. Sesudah upacara itu, kalau cara-cara tradisional dipatuhi dengan sungguh-sungguh, pasangan itu tetap tak berhubungan dengan umum selama lima hari di rumah mempelai perempuan dan setelah pindah ke rumah mempelai laki-laki, sampai hari ke-35 setelah pernikahan. Akan tetapi, yang demikian tak pernah terjadi lagi di Mojokuto. Beberapa pasangan menetap di rumah mempelai perempuan selama lima hari, tetapi hampir tidak pernah tanpa tamu sebagaimana yang diharuskan. Banyak orang mengadakan slametan mengikuti iring-iringan upacara dari rumah mempelai perempuan ke rumah mempelai laki-laki dan dalam beberapa kasus slametan ini cukup besar." Salahsatu pesta yang paling meriah—lengkap dengan penari-penari sewaan—yang saya lihat di Mojokuto diadakan oleh seorang priyayi yang agak ambisius, untuk putranya, karena anak ini menikah di Solo, Jawa Tengah. Ayahnya bersikeras untuk tidak melewatkan kesempatan ini, dimana ia bisa mengundang orang-orang penting setempat dalam sebuah pesta makan malam. Namun para tamu hanya tinggal di rumah mempelai lelaki semalam atau dua malam dan sepanjang yang saya ketahui saat ini, slametan 35 harinya tidak pernah diselenggarakan. Untuk mempelai perempuan yang belum mengalami datang bulan, upacara perkawinannya ditambah dengan sebuah upacara khusus yang disebut jago-jagoan. Teman mempelai pria membuat seekor ayam jago yang besar dari bubur kertas (papier-mache) atau mori putih dan meletakkan uang Cina Gjenis uang logam dengan lubang di tengah), beras serta sebutir telur di dalamnya. Ia kemudian membawa ayam jago ini di dalam slendang—diikuti oleh barisan teman-teman mempelai lelaki yang melawak serta berkokok seperti ayam jago—seolah-olah ayam itu seorang bayi, dibawa berkeliling kota dan berakhir di rumah mempelai