Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
ومن لوثة القومية واعتقادهم أنّ إلههم قومي، لا يحاسبهم بقانون الأخلاق إلا في سلوك بعضهم مع بعض، أما الغرباء (غير اليهود) فهو لا يحاسبهم على سلوك معيب بهم.
من هذه اللوثة كان قولهم الذي حكاه القرآن الكريم: (ومنهم مَّن إن تأمنه بدينارٍ لا يؤده إليك إلاَّ ما دمت عليه قائِماً ذلك بأنَّهم قالوا ليس علينا في الأمّيين سبيلٌ ويقولون على الله الكذب وهم يعلمون) آل عمران: ٧٥ ، وقد تضمنت كتبهم المحرفة أوصافاً لإلههم لا ترتفع كثيراً على أوصاف الإغريق في وثنيتهم لآلهتهم.
جاء في الإصحاح الثالث من سفر التكوين: " بعد ارتكاب آدم لخطيئة الأكل من الشجرة (وهي كما يقول كاتب الإصحاح شجرة معرفة الخير والشر) وسمعا صوت الرب الإله ماشياً في الجنة عند هبوب ريح النهار، فاختبأ آدم وامرأته من وجه الرب الإله في وسط الجنة، فنادى الرب الإله آدم، وقال له: أين أنت؟ فقال: سمعت صوتك في الجنة، فخشيتك، لأني عريان، فاختبأت، فقال: من أعلمك أنك عريان؟ هل أكلت من الشجرة التي أوصيتك ألا تأكل منها؟ .
وقال الرب الإله: هوذا الإنسان صار كواحد منا عارفاً الخير والشر، والآن لعله يمد يده، ويأخذ من شجرة الحياة أيضاً، أو يأكل ويحيا إلى الأبد، فأخرجه الربّ الإله من جنة عدن، ليعمل في الأرض التي أخذ منها، فطرد الإنسان وأقام شرقي جنة عدن الكروبيم، ولهيب سيف متقلب لحراسة شجرة الحياة ".
واضح ما في هذه النقول من وصف الله - سبحانه - بالجهل، وأنه لا يدري أين آدم حتى عرّفه هو، وأنه كالبشر يتمشى كما يتمشى البشر، وأن السبب في إخراج آدم من الجنة ليس هو معصية آدم لربه كما وضحه القرآن، وإنما هو خوف الله تعالى من أن يأكل الإنسان من شجرة الحياة فيكون من الخالدين! وأن الله لم يُعرّف الإنسان الخير والشر، وإنما علم ذلك عندما أكل من الشجرة، وكل ذلك كذب وافتراء على الله سبحانه وتعالى.
Di antara bentuk fanatisme kesukuan mereka adalah keyakinan bahwa Tuhan mereka hanyalah Tuhan kaum mereka sendiri, yang tidak menilai mereka dengan standar moral universal kecuali dalam hubungan antar sesama Yahudi. Adapun terhadap orang asing (non-Yahudi), mereka berkeyakinan bahwa Tuhan tidak menuntut mereka atas perilaku tercela sekalipun.
Dari sinilah muncul ucapan mereka yang diabadikan Al-Quran:
﴿وَمِنْهُمْ مَّنْ إِن تَأْمَنْهُ بِدِينَارٍ لَّا يُؤَدِّهِ إِلَيْكَ إِلَّا مَا دُمْتَ عَلَيْهِ قَائِمًا ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا لَيْسَ عَلَيْنَا فِي الْأُمِّيِّينَ سَبِيلٌ وَيَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُونَ﴾
“Dan di antara mereka ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya satu dinar, tidak akan mengembalikannya kepadamu kecuali jika kamu selalu menagihnya. Hal itu karena mereka berkata: ‘Tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang ummi (non-Yahudi).’ Mereka mengatakan hal yang dusta terhadap Allah, padahal mereka mengetahui.” (Surah Ali ‘Imran: 75)
Kitab-kitab mereka yang telah dipalsukan juga berisi sifat-sifat bagi Tuhan mereka yang tidak lebih tinggi nilainya dari gambaran orang-orang Yunani terhadap dewa-dewa mereka dalam keyakinan paganisme. Dalam pasal ketiga Kitab Kejadian disebutkan: setelah Adam melakukan dosa memakan buah dari pohon (yang disebut penulis pasal itu sebagai pohon pengetahuan baik dan jahat), ia dan istrinya mendengar suara Tuhan Allah berjalan-jalan di taman pada waktu angin sepoi hari, maka mereka bersembunyi dari hadapan Tuhan Allah di tengah-tengah taman. Lalu Tuhan Allah memanggil Adam dan berkata: “Dimanakah engkau?” Adam menjawab: “Aku mendengar suara-Mu di taman, maka aku takut karena aku telanjang, lalu aku bersembunyi.” Tuhan berkata: “Siapa yang memberitahumu bahwa engkau telanjang? Apakah engkau makan dari pohon yang telah Kuperintahkan untuk tidak kau makan darinya?”
Kemudian Tuhan Allah berkata: “Sesungguhnya manusia itu telah menjadi seperti salah satu dari Kita, mengetahui yang baik dan yang jahat. Maka sekarang jangan sampai ia mengulurkan tangannya dan mengambil juga dari pohon kehidupan, lalu memakannya sehingga ia hidup untuk selama-lamanya.” Maka Tuhan Allah mengusirnya dari taman Eden untuk mengerjakan tanah dari mana ia diambil. Ia menghalau manusia itu dan menempatkan di sebelah timur taman Eden para kerub serta pedang yang menyala-nyala dan menyambar-nyambar untuk menjaga jalan ke pohon kehidupan.
Jelas sekali dalam kutipan ini terdapat gambaran yang menisbatkan sifat jahil kepada Allah ﷻ, seakan-akan Dia tidak mengetahui keberadaan Adam hingga Adam sendiri yang memberitahu-Nya. Allah juga digambarkan berjalan seperti manusia. Adapun alasan pengusiran Adam dari surga, menurut kitab mereka, bukan karena maksiat Adam terhadap Tuhannya sebagaimana dijelaskan dalam Al-Quran, melainkan karena Allah takut kalau-kalau manusia memakan pohon kehidupan dan menjadi kekal. Bahkan disebutkan bahwa Allah tidak mengenalkan manusia kepada pengetahuan tentang baik dan buruk, kecuali setelah Adam memakan pohon itu. Semua ini adalah kedustaan dan kebohongan yang ditimpakan kepada Allah ﷻ.