Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
Surah al-Fatihah (1) Kelompok II ayat 7 dijelaskan siapa dia. Ayat ini tidak menyatakan jalan orang yang telah Engkau murkai, tetapi yang dimurkai. Ini, karena penganugerahan nikmat adalah sesuatu yang terpuji, sehingga wajar disandarkan kepada Allah, sedang murka, secara umum dapat dikatakan buruk, karena itu tidak disandarkan kepada Allah swt. Rasul saw. mewasiatkan kepada salah seorang sahabat beliau, “Jangan marah” (HR. Bukhari melalu Abu Hurairah). Al-Guran memuji orangorang yang mampu menahan amarahnya dan menjadikan kemampuar ini sebagai salah satu ciri ketakwaan (baca OS. Al Imrin (3): 134), Al-Qur'an mengajarkan bahwa segala yang terpuji dan indah bersumber dari-Nya, sedang yang tercela carilah penyebabnya pada diri sendiri. Perhatikan ucapan Nabi Ibrahim as. yang diabadikan al-Qur'an: “Apabila aku sakit maka Dia yang menyembubkanku?” (QS. asy-Syu'“ara' [26]: 80). Karena penyakit adalah sesuatu yang buruk, maka ia tidak dinyatakan sebagai dari Allah namun kesembuhan yang merupakan sesuatu yang terpuji, maka dinyatakan bahwa Allah yang menyembuhkan. Sekali lagi baca Firman Allah dalam surah al-Kahf [18] yang mengisahkan perjalanan Nabi Musa as. bersama seorang hamba pilihan Allah. Ketika sang hamba Allah itu, membocorkan perahu, dia berucap: Aku hendak merusaknya” (ayat 79). Ini karena pembocoran perahu adalah sesuatu yang nampak buruk, tetapi ketika ia membangun kembali tembok yang hampir rubuh, maka redaksi yang digunakannya adalah “maka Tuhanmu menghendaki” (ayat 82), karena amat jelas sisi positif dari pembangunan itu, dan ketika dia membunuh seorang bocah, dengan maksud agar Tuhan menggantinya dengan yang lebih baik, redaksi yang digunakannya adalah ‘Maka kami berkehendak” (ayat 81). Kehendak dia adalah pembunuhan dan kehendak Tuhan adalah penggantian anak dengan yang lebih baik. Karena itu jika ada sesuatu yang tidak berkenan di hati, maka hendaklah dicari penyebabnya dari diri manusia. “Apa saja nikmat yang engkau dapatkan maka ia adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri” (QS. an-Nis& [4]: 79), “Allah tidak menganiaya mereka, tetapi mereka yang menganiaya diri mereka sendiri” (QS. Al Imran [B]: 117. Murka yang menimpa mereka, penyebabnya adalah diri mereka senditi, sehingga di hari Kemudian nanti hati mereka pun bergejolak, penuh kebencian dan kemurkaan terhadap diri mereka walaupun murka Allah lebih besar dari murka mereka itu. Sesungguhnya orang-orang yang kafir diserukan kepada mereka (pada hari Kiamat ): “Sesungguhnya murka Allah (kepadamu) lebih besar daripada murka kamu kepada dirimu sendiri karena kamu diseru untuk beriman lalu kamu kafir” (OS. al-Mw'min (40: 10).