Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
Kelompok II ayat 7 Surah al-Fatihah (1) Ayat yang sedang kita bahas inrmenegaskan bahwa, Bukan jalan orangorang yang dimurkai walau sebelumnya telah dimohonkan agar dibimbing dan diantar menuju jalan orang-orang yang diberi-Nya nikmat. Penegasan ini agaknya dimaksudkan agar para pemohon tidak mengalami apa yang dialami oleh umat lain yang telah dianugerahi Allah hidayah, tetapi mereka menyimpang sehingga mendapat murka dan dinilai sebagai orang-orang sesat, sebagaimana halnya orang-orang Yahudi dan Nasrani. Kata (adal ) adh-dhallin berasal dari kata ( Le) dhaka. Tidak kurang dan 190 kali kata dha//a dalam berbagai bentuknya terulang dalam al-Our'an. Kata ini pada mulanya berarti kehilangan jalan, bingung, tidak mengetahui arah. Makna-makna ini berkembang sehingga kata tersebut juga dipahami dalam atti binasa, terkubur, dan dalam arti immaterial ia berarti sesat dari jalan kebajikan, atau lawan darti petunjuk. Dati penggunaan al-Qur’ân yang beraneka ragam, dapat disimpulkan bahwa kata ini dalam berbagai bentuknya mengandung makna tindakan atau ucapan yang tidak menyentuh kebenaran. Anda dapat memahami kata ad-dhd/in dalam “yat ini adalah orangorang Nasrani, sebagaimana informasi sebuah riwayat yang dinisbahkan kepada Nabi saw. Tetapi tanpa menolak informasi itu, di sini dapat diulangi penjelasan yang dikemukakan di atas tentang arti almaghdub ‘alaihim yakni bahwa penafsiran ini adalah contoh yang diangkat Nabi dari masyarakat bekau ketika itu. Kata adh-dhalfin ditemukan dalam al-Qur'an sebanyak delapan kali dan kata adh-dhâllůn sebanyak lma kal. Paling sedikit ada tiga ayat dari ayatayat yang menggunakan kata adr-dhållin dan adh-dhållún yang dapat membantu memahami apa yang dimaksud cleh al-Qur'an dengan kata tersebut. Pertama QS. Al “Imran (3): 90: “Sesungguhnya orang-orang kafir sesudah beriman, kemudian bertambah kekafirannya, sekali-kali tidak akan diterna taubatnya; dan mereka itulah adhdhallin (orang-orang yang sesat).” Kedua, QS. al-An‘âm [6]: 77: “Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku” Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk adh-dhallin (orang-orang yang sesat). Ketiga, QS. al-Hijr (15): 56: Ibrabim berkata: “Tidak ada yang berputus asa dari rahmat Tuhannya, kecuali adh-dhallin orang-orang yang sesat.”