Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
Surah al-Fatihah (1) Kelompok II ayat 7 Ayat pertama di atas menggambarkan bahwa orang-orang kafir sesudah beriman dan bertambah kekufurannya adalah orang-orang yang sesat. Dari sini dipahami bahwa al-maghdhib 'alaihim sebenarnya tergolong orang-orang yang sesat dan demikian pula sebaliknya. Dari kedua ayat terakhir yang dipilih di atas, dapat ditemukan tiga tipe dari adh-dhdllin. a. Orang-orang yang tidak menememukan atau mengenal petunjuk Allah swt. dan atau agama yang benar. Artinya mereka tidak mengetahui adanya ajaran agama, atau pengetahuan mereka sangat terbatas sehingga tidak mengantar mereka untuk berpikir jauh ke depan. Mereka pasti tidak menyentuh kebenaran agama, mereka pasti sesat, paling tidak kesesatan perjalanan menuju kebahagiaan ukhrawi. Ini adalah sisi pertama dari ucapan Nabi Ibrahim di atas, sedang sisi kedua menggambarkan tipe kedua dari adh-dhallin yaitu, b. Orang-orang yang pernah memiliki sedikit pengetahuan agama, ada juga keimanan dalam hatinya, namun pengetahuan itu tidak dikembangkannya, tidak juga ia mengasah dan mengasuh jiwanya, sehingga pudar imannya. Ia mengukur segala sesuatu dengan hawa nafsunya. Mereka ini berada di puncak kesesatan, karena tipe pertama memang pada dasarnya tidak mengetahui, sedang tipe ini telah memiliki pengetahuan. Termasuk dalam tipe ini orang-orang yang hanya mengandalkan akalnya semata-mata dan menjadikannya satu-satusatunya tolok ukur, walaupun dalam wilayah yang tidak dapat disentuh oleh kemampuan akal. c. Yang digambarkan oleh OS. al-Hijr (15) di atas adalah mereka yang berputus asa dari rahmat Allah swt. Banyak ragam keputusasaan dan banyak pula penyebabnya seperti putus asa akan kesembuhan, pencapaian sukses, pengampunan dosa dan lain-lain, yang kesemuanya berakhir pada tidak bersangka baik kepada Allah swt. Demikian ayat terakhir surah al-Fatihah ini mengajarkan, manusia agar bermohon kepada Allah, kiranya ia diberi petunjuk oleh-Nya sehingga mampu menelusuri jalan luas lagi lurus, jalan yang pernah ditempuh oleh orang-orang yang telah memperoleh sukses dalam kehidupan ini, bukan jalan orang yang gagal dalam kehidupan ini, karena tidak mengetahui arah yang benar, atau mengetahuinya tetapi enggan untuk menelusurinya. Ayat ini juga mengajarkan kaum muslimin agar selalu optimis menghadapi hidup ini, bukankah nikmat Allah selalu tercurah kepada hamba-hamba-Nya?