Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
Surah al-Baqarah (2) Kelompok I ayat 3-5 oleh keraguan, namun ketika ia sampai pada tahap yakin, maka keraguan yang tadinya ada langsung sirna. Mereka itulah yakni orang-orang yang sungguh jauh dan tinggi kedudukannya berada di atas yakni memperoleh dengan mantap petunjuk dari Tuhan Pembimbing mereka dan mereka itulah orang yang beruntung, memperoleh apa yang mereka dambakan. Kata ( ) @ala/ di atas yang digunakan ayat ini memberi kesan bahwa orang-orang bertakwa selalu berada dalam posisi yang tinggi berkat konsistensinya menjalankan petunjuk Allah swt. Penegasan bahwa mereka itu berada di atas petunjuk, memberi kesan bahwa sifat-sifat terpuji yang mereka sandang adalah berkat anugerah hidayah Allah atas mereka. Mereka menjadi orang-orang bertakwa karena hidayah Allah itu. Selanjutnya dengan adanya penegasan sebelumnya bahwa al-Qur'an adalah hidayah, Jahit kesan bahwa mereka itu diliputi oleh dua macam hidayah. Hidayah pertama menjadikan mereka masuk ke dalam kelompok orang bertakwa dan hidayah kedua, melebihi hidayah pertama. Memang seperti penegasan-Nya bahwa Allah menambah hidayah-Nya bagi orang-orang yang telah memperoleh hidayah. Dengan demikian, tukar posisi ayat ini dengan ayat berikut yang berbicara tentang orang-orang kafir yang juga berada dalam dua macam kesesatan, sebagaimana akan terbaca nanti. Hidayah pertama yang dimaksud di sini adalah kesucian jiwa mereka, dan kesedfaannya menampung kebenaran. Ini mengantar mereka sadar akan kelemahan mereka serta kebutuhannya akan bimbingan, yang berada di luar diri mereka — di luar jasmani, rasa dan akal mereka. Dari sini lahir kepercayaan tentang adanya wujud yang gaib yang dapat membantu, dan ini berakhir dengan keyakinan tentang wujud Allah swt. serta bimbingan-Nya. Sementara ulama berpendapat bahwa ayat empat berbicara tentang kelompok lain dari orang-orang yang beriman. Kelompok pertama — ditunjuk oleh ayat 3 — adalah orang-orang bertakwa yang telah memeluk Islam setelah sebelumnya mereka adalah orang-orang musyrik. Mereka mendengar petunjuk al-Qur'an dan menyambutnya, didorong oleh ketakwaan dan rasa takut akan masa depan yang gaib, yakni hari Kemudian yang tadinya mereka ingkari atau ragukan. Karena itu menurut penganut pendapat ini, meteka antara lain disifati sebagai orang-orang yang percaya kepada yang gaibkarena sebelumnya mereka tidak percaya; sebelumnya mereka juga tidak shalat. Atas dasar itu pula maka kepercayaan mereka, dilukiskan oleh ayat ini dalam dalam bentuk kata kerja masa kini, seperti juga dengan aktivitas shalat mereka. Itu semua untuk menunjukkan kesinambungan dan peningkatan iman serta shalat mereka dari saat ke saat.