Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
Kelompok I ayat 8-10 Surah al-Baqarah (2) Pernyataan mereka itu dibantah dengan menggunakan redaksi yang menunjuk pada ketidakmantapan iman mereka. Memang, bisa saja ada sedikit keimanan yang bersemai dalam kalbu mereka, tetapi itu bukanlah iman yang mantap yang menjadikan mereka wajar dinamai orang mukmin. Padahal mereka itu sesungguhnya bukanlah orang-orang mukmin yang mantap imannya. Sebagian masih terombang ambing dan sebagian lagi hanya, berpura-pura. Anda tentu mengetahui bahwa ada perbedaan antara orang “yang beriman” dan yang “mukmin” dari segi kemantapan dan kedalamannya. Lebih kurang sama dengan perbedaan antara “yang menyanyi” dan “penyanyi”. Penyanyi adalah seorang yang telah berulang-ulang menyanyi, bahkan telah menjadi profesi yang ditekuninya, berbeda dengan “yang menyanyi”, yang bisa jadi hanya mendendangkan lagu sekali atau dua kali, bahkan bisa saja tidak di depan umum. Mungkin di dalam benak seseorang terlintas pertanyaan yang menyatakan, “Mengapa mereka berucap demikian?” Maka itu dijawab bahwa, Mereka bermaksud dengan sungguh-sungguh berupaya menipu Allah dan orang-orang yang beriman yang memiliki keimanan tulus. Atau, ayat ini merupakan penjelasan tentang sifat mereka yang lain. Penipuan adalah upaya mengelabui pihak lain untuk menjerumuskannya dalam kesulitan tanpa disadari oleh yang dijerumuskan, atau upaya mgnampakkan pertolongan padahal di balik itu terdapat kerugian bagi pihak yang lain. Itu mereka lakukan dengan penuh kesungguhan sebagaimana dipahami dari kata (038) yukhddiin bukan ( ò ss ) yakhda Dn. Orang-orang munafik ketika itu bergaul dengan orang-orang mukmin dengan tujuan mendengar rahasia kaum muslimin untuk kemudian membocorkannya kepada lawan, atau bergaul dengan tujuan menutupnutupi kemunafikan mereka sehingga mereka terhindar dari sanksi yang dapat dijatuhkan kepada mereka. Mereka sungguh keliru, padaha/ sebenarnya mereka tidak menipu kecuali hanya menipu diri mereka sendiri, walau sedang mereka tidak sadar bahwa mereka merugikan diri mereka sendiri, atau bahkan mereka tidak memiliki sedikit kesadaran pun, baik menyangkut bahaya yang dapat menimpa mereka maupun kesadaran menyangkut yang bermanfaat atau berakibat buruk buat mereka. Walhasil, mereka bukan manusia yang memiliki kesadaran. Ini disebabkan karena dalam hati mereka ada penyakit, seperti membenci Nabi dan iri terhadap beliau, kesesatan, kebodohan, dan lain-lain yang menyebabkan ketidakseimbangan mental, bahkan kematian ruhani. Maka Allah menambah penyebab penyakit itu melalui upaya dan maksud buruk