Loading...

Maktabah Reza Ervani

15%

Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000



Judul Kitab : Tafsir al Mishbah Jilid 1 - Detail Buku
Halaman Ke : 130
Jumlah yang dimuat : 623
« Sebelumnya Halaman 130 dari 623 Berikutnya » Daftar Isi
Tabel terjemah Inggris belum dibuat.
Bahasa Indonesia Translation

Surah al-Baqarah (2) Kelompok I ayat 14-15 rekan mereka yang tentu saja lebih percaya kepada para munafik pengucap kata-kata di atas. Menutut az-Zamakhsyari, tidak adanya kata penguat dalam ucapan kaum munafikin kepada orang-orang beriman, karena tujuan utama mereka hanya menyampaikan keimanan mereka, apalagi — lanjut Az-Zamakhsyari — mereka tidak mampu mengucapkan lebih dari apa yang mereka ucapkan itu di hadapan kaum beriman, karena mereka sadar bahwa itu tidak berpengaruh bagi kaum mukmin. Sedang penggunaan kata penguat ketika mereka berhadapan dengan rekan-rekan mereka, maka hal tersebut disebabkan karena mereka ingin menekankan pentingnya informasi mereka serta ketulusan mereka mengucapkannya apalagi hal tersebut berdampak terhadap rekan-rekan mereka. Pendapat yang dikemukakan az-Zamakhsyari di atas, dinilai aneh oleh Thahir Ibn “Asyir. Ulama ini mengemukakan alasan yang lebih logis dan sesuai dengan kemahiran kaum munafikin bermuka dua. Menurutnya, mereka tidak menggunakan kata penguat ketika berhadapan dengan orangorang beriman, karena mereka enggan menampakkan diri sebagai seorang yang dicuragai dan diragukan kebenaran ucapannya. Bila mereka menggunakan kata penguat, boleh jadi mereka membangkitkan kesan keraguan di dalam benak mitra bicaranya, padahal boleh jadi ketika itu, kesan tersebut belum muncul. Ini menunjukkan betapa kaum munafikin benar benar lihai dalam kemunafikannya. Sebaliknya, karena kelihaian mereka bermuka dua di hadapan kaum muslimin, maka timbul keraguan di kalangan rekan-rekan dan para pemuka mereka. Keraguan itu mengundang kata penguat ketika mereka menyampaikan sikap mereka itu yakni bahwa Sesungguhnya kami bersama kamu, kami hanyalah pengolok-olok. Kata (& yeime) yastahzi 'u/ memperolok-olok, terambil dari kata (sj2) haza' yang pada mulanya berarti keringanan tangan dalam membunuh. Demikian Abu as-Su'ud. Makna ini kemudian berkembang sehingga keringanan hati dalam olok-olok pun dinamai demikian. Firman-Nya: Allah memperolok-olok mereka, merupakan kalimat yang dihadirkan untuk menjawab sekian pertanyaan yang muncul akibat sikap dan ucapan orang-orang munafik itu. Seakan-akan ada yang bertanya: Apakah kaum munafikin itu akan dibiarkan terus demikian? Siapakah yang menghadapi mereka dan apa yang dilakukan terhadap mereka? Nah, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, ayat ini menyatakan bahwa Allah akan membalas mereka setimpal dengan apa yang mereka lakukan. Kalau mereka memperolok-olok dengan berbagai sikap dan tingkah, maka Allah


Beberapa bagian dari Terjemahan di-generate menggunakan Artificial Intelligence secara otomatis, dan belum melalui proses pengeditan

Untuk Teks dari Buku Berbahasa Indonesia atau Inggris, banyak bagian yang merupakan hasil OCR dan belum diedit


Belum ada terjemahan untuk halaman ini atau ada terjemahan yang kurang tepat ?

« Sebelumnya Halaman 130 dari 623 Berikutnya » Daftar Isi