Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
Surah al-Baqarah (2) Kelompok I ayat 19-20 bila petunjuk al-Qur'an dia abaikan maka gelap kembali datang menimpanya sehingga ia berhenti karena tak tahu lagi mana arah yang benar. Menurut al-Biga'i, Allah swt.. mendahulukan penyebutan perumpaan pertama karena dia adalah perumpamaan orang-orang munafik sejak masa kecil mereka. Ayat itu menjadikan masa kedewasaan mereka, dimana akal berkembang disertai dengan fitrah yang suci dilukiskan dengan menyalakan api. Selanjutnya dikemukakan perumpaan kedua setelah mereka memasuki usia kematangan tetapi ternyata mereka tetap dalam kesesatan bahkan melebihi kesesatan sebelumnya. Dengan demikian kata (31) auw pada awal ayat di atas ia pahami dalam arti bahkan. Memang tidak kurang dari lima pendapat tentang tentang arti auw. 1) Ada yang berpendapat bahwa kata itu berarti bahkan — seperti pendapat alBiga'i di atas. 2) Ada juga rmemahaminya sebagai berfungsi memberi makna rincian, seakan-akan ayat ini menyatakan orang-orang yang melihat keadaan orang-orang munafik itu ada yang memperamakannya dengan seorang yang menyalakan api, dan ada lagi yang mempersamakannya dengan keadaan orang-orang yang ditimpa hujan lebat yang diliputi oleh eneka kegelapan. 3) Bermakna keraguan, dalam arti yang melihatnya ragu dengan perumpaan apa orang-orang munafik itu wajar diperumpamakan. 4) Bermakna Anda boleh memperupamakannya dengan orang yang menyalakan api, boleh juga dengan yang ditimpa hujan. 5) Ini berarti bahwa keadaan orang-orang munafik mencakup kedua perumpaan itu. Pendapat yang paling populer adalah pendapat pertama. Al-Harrali menilai kedua perumpaan di atas untuk orang-orang munafik dalam sikap mereka terhadap al-Qur'an. Ada kandungan al-Qur'an yang menyenangkan mereka karena darinya mereka memperoleh keuntungan materi dan inilah yang dilukiskan oleh perumpaan pertama; Selanjutnya ada juga uraian al-Qur'an yang tidak berkenan di hati mereka, dan inilah yang dilukiskan oleh perumpaan yang kedua. Perumpamaan pertama didahulukan karena keadaan mereka yang dilukiskan itulah yang mengantar mereka memiliki kemiripan lahiriah dengan orang-orang beriman. Di atas digunakan kata ( WS ) kullamå/ setiap saat untuk menggambarkan keadaan mereka saat kilat menyinari mereka dan menggunakan kata (15!) 14z4/ bila, yakni bila saat gelap menimpa mereka yang menutupi pandangan mereka. Kata serap saat mengisyaratkan betapa besar keinginan mereka untuk berjalan, sehingga tidak sesaat atau sedikitpun dari cahaya itu mereka sia-siakan — tetapi mereka selalu gagal. Demikian antara lain al-Bigai dan Ibn “Asyir.