Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
Surah al-Baqarah (2) Kelompok II ayat 21 Terhadap siapakah ibadah atau pengabdian harus ditujukan? Ayat ini menjelaskan bahwa ibadah tersebut ditujukan kepada Rabb yang mencipta seluruh manusia dan siapapun yang diberi potensi akal sebelum wujudnya seluruh manusia yang mendengar panggilan ayat ini. Karena Pencipta itu adalah Rabb. (Ce)) Rabb adalah Pendidik dan Pemelihara. Banyak sekali aspek dan rububiyah Allah swt. yang menyentuh makhluk-Nya seperti pemberian rezeki, kasih sayang, pengampunan dan lain-lain. Angkatlah salah satu nikmat yang Anda rasakan atau Anda sadari sedang dimiliki orang lain, dan tanyailah diri Anda, siapa yang menganugerahkan nikmat itu? Jawabannya adalah Dia sang Pemelihara dan Pendidik itu. Bahkan amarah, ancaman dan siksaNya tidak keluar dari makna yang dikandung oleh kata Rabb. Bukankah orang tua yang memukul anaknya adalah dalam rangka memelihara dan mendidiknya? Kata Rabb pada ayat ini adalah bukti kewajaran Sang Pencipta bahwa hanya kepada-Nya segala macam ketaatan dan kepatuhan ditujukan? Tetapi ingat, ibadah yang dilakukan itu bukan untuk kepentingan-Nya, tetapi untuk kepentingan sang pengabdi, yakni agar ia bertakwa serta terhindar dari siksa dan sanksi Allah di dunia dan di akhirat. Karena itu, laksanakanlah ibadah dengan niat agar kamu bertakwa, yakni dengan mengharap agar kamu dapat terhidar dari segala sesuatu yang dapat menyiksa kamu. Di atas dikemukakan bahwa ayat ini mengajak ketiga kelompok manusia — yang bertakwa, kafir dan munafik — untuk beribadah. Nah, pertanyaan yang muncul, apakah yang bertakwa masih diajak untuk beribadah yang tujuannya adalah agar mencapai takwa, padahal mereka telah bertakwa? Ya. Mereka tetap diajak, bukan saja agar ibadah tersebut terus memelihara keterhindaran mereka dari siksa, tetapi juga untuk meningkatkan ketakwaan itu serta memperkokoh benteng yang melindungi mereka dari segala macam ancaman duniawi dan ukhrawi. Memang boleh jadi ajakan ini lebih banyak ditujukan dan ditekankan kepada orang-orang musyrik dan yang menempuh jalan mereka. Ini diperkuat oleh panggilan (43! dk) ya ayyuha an-nds/ wahai seluruh manusia yang biasanya digunakan untuk menyeru mereka yang belum beriman, sedang yang telah beriman dipanggil dengan (Iya! a PA ) ya ayyuhalladzina Amani. Sebagaiman dikuatkan juga oleh lanjutan ayat berikut yang menyatakan janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui. Di sini Allah menampakkan betapa besar kasih sayang-Nya kepada makhluk, khususnya manusia. Walaupun para pendurhaka telah melampaui batas, namun mereka masih diajak. Ini karena sikap keras yang ditampilkan