Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
Surah al-Baqarah (2) Kelompok II ayat 22 kebebasan memilih. Dia menghendaki untuk mereka kebaikan dan agar mereka bertakwa. Dengan demikian, mereka sebenarnya berada dalam posisi yang diharapkan memperoleh ketakwaan tetapi dalam kerangka kebebasan memilih antara taat atau durhaka. Ini serupa dengan, situasi sesuatu yang belum jelas apakah ia terjadi atau tidak. Ketidakjelasan itu lahir karena adanya pilihan untuk yang bersangkutan apa memilih yang ini atau yang itu. Betapapun, pada akhirnya kita dapat berkata bahwa tidak ada sesusatu yang merupakan harapan bagi Allah jika maknanya dikaitakan dengan ketidakpastian. Keyakianan setiap penganut agama tentang kemahaluasan pengetahuan Allah menjadi dalil yang sangat kuat untuk menghindarkan makna ketidakpastian itu dari kandungan makna /a'a//a bila pelakunya adalah Allah swt. Bila Anda telah menghindarkan makna itu, maka silahkan pilih makna yang Anda anggap tepat. AYAT 22 ba aa P . ea Ta ” P orn r , A a 5 ARP Ob GÉN iya Jl a SA SN Jak sa “i g z - ; pa Pa Ina f, 2 : KN o palai a a ASI By ON Yaa Uya “Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagi kamu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan sebagian air dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan air itu buah-buahan sebagai bagian rezeki untuk kamu, karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” Allah bukan hanya menciptakan kamu, tetapi Dia juga yang menjadikan bumi hamparan untuk kamu. Kalau kata (3) khalaga/ mencipta memberi kesan wujudnya sesuatu, baik melalui bahan yang telah ada sebelumnya maupun belum ada, serta menekankan bahwa wujud tersebut sangat hebat, dan tentu lebih hebat lagi Allah yang mewujudkannya. Kalau kata £halaga demikian halnya, maka kata (be ) ja'ala, mengandung makna mewujudkan sesuatu dari bahan yang telah ada sebelumnya sambil menekankan bahwa yang wujud itu sangat bermanfaat dan harus diraih manfaatnya, khususnya oleh yang untuknya diwujudkan sesuatu itu, yakni oleh manusia. Jika demikian, manusia yang untuknya dijadikan bumi ini terhampar harus meraih manfaat lahir dan batin, material dan spiritual dari dijadikannya bumi ini terhampar. Jangan biarkan bumi, tanpa dikelola dengan baik. Makmurkan ia untuk kemaslahatan hidup, sambil mengingat bahwa sebagaimana ada makhluk yang diciptakan-Nya sebelum kamu, ada juga makhluk yang akan datang