Loading...

Maktabah Reza Ervani

15%

Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000



Judul Kitab : Tafsir al Mishbah Jilid 1 - Detail Buku
Halaman Ke : 159
Jumlah yang dimuat : 623
« Sebelumnya Halaman 159 dari 623 Berikutnya » Daftar Isi
Arabic Original Text
Belum ada teks Arab untuk halaman ini.
Bahasa Indonesia Translation

a Kelompok II ayat 29 Surah al-Baqarah (2) hg tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melibat pada ciptaan Tuhan a Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?” Sayyid Outhub dalam tafsirnya berkomentar tentang ayat ini lebih kurang sebagai berikut: “Banyak sekali uraian para mufassir dan teolog tentang penciptaan langit dan bumi. Mereka berbicara tentang sebelum penciptaan dan sesudahnya, juga tentang arti ¿szawå/ berkehendak menuju. Mereka lupa bahwa sebelum dan sesudah adalah dua istilah yang digupakan manusia dan keduanya tidak menyentuh sisi Allah swt. Mereka juga lupa bahwa zsfawā adalah istilah kebahasaan yang di sini hanya menggambarkan bagi manusia, makhluk terbatas ini, satu gambaran tentang sesuatu yang tidak terbatas. Perdebatan yang terjadi di kalangan teolog muslim menyangkut ungkapanungkapan al-Qur'an itu, tidak lain kecuali salah satu dampak buruk dari sekian dampak buruk filsafat Yunani dan uraian-uraian tentang ketuhanan di kalangan orang-orang Yahudi dan Nasrani yang bercampur dengan akal Islam yang murni. Tidaklah wajar bagi kita dewasa ini terjerumus dalam kesalahan tersebut sehingga memperburuk keindahan akidah Islam, dan keindahan alQur'an. Pesan ayat ini adalah bumi diciptakan buat manusia. Dan kata buat manusia perlu digarisbawahi, yakni bahwa Allah menciptakannya agar manusia berperanan sebagai khalifah, berperan aktif dan utama di pentas bumi ini, berperan utama dalam peristiwa-peristiwanya serta pengembangannya. Dia adalah pengelola bumi dan pemilik alat, bukan dikelola oleh bumi dan menjadi hamba yang diatur atau dikuasai oleh alat. Tidak juga tunduk pada perubahan dan perkembangan-perkembangan yang dilahirkan oleh alat-alat, sebagaimana diduga bahkan dinyatakan oleh paham matrtalisme.” Demikian Sayyid Guthub. Adapun tentang istawd maka — menurutnya — tidak ada tempat untuk mempersoalkan hakikat maknanya, karena kata itu adalah lambang yang menunjuk pada “kekuasaan.” Demikian juga halnya dengan makna berkehendak menuju penciptaan. Ini pun tidak ada tempatnya untuk dibahas, sebagaimana halnya tidak ada tempatnya membahas apa yang dimaksud oleh ayat ini dengan “tujuh langit” serta bentuk dan jaraknya. Cukup kita memahami pesannya bahwa informasi Allah ini bertujuan mengecam orangorang kafir yang mempersekutukan Allah padahal Dia adalah Pencipta Yang Menguasai alam raya, Yang menghamparkan bumi manusia dan menyerasikan langit agar kehidupan di dunia menjadi nyaman. Semua itu tidak ada tempatnya untuk dibahas karena keterbatasan akal manusia, sekaligus karena membahasnya dan mengetahuinya sedikit pun tidak berkaitan dengan tujuan penciptaan manusia sebagai hamba Allah dan khalifah di dunia.


Beberapa bagian dari Terjemahan di-generate menggunakan Artificial Intelligence secara otomatis, dan belum melalui proses pengeditan

Untuk Teks dari Buku Berbahasa Indonesia atau Inggris, banyak bagian yang merupakan hasil OCR dan belum diedit


Belum ada terjemahan untuk halaman ini atau ada terjemahan yang kurang tepat ?

« Sebelumnya Halaman 159 dari 623 Berikutnya » Daftar Isi