Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
Kelompok III ayat 30 Surah al-Baqarah (2) dan pemahaman, menciptakan bagi mereka naluri untuk taat, serta memberi mereka kemampuan berbentuk dengan berbagai bentuk yang indah dan kemampuan untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan berat. Syekh Muhammad Abduh yang dikenal beraliran rasional dan berupaya untuk membatasi sedapat mungkin wilayah suprarasional dari ajaran agama, menolak definisi ini. Namun demikian, ia tidak memberi definisi, bahkan ketika menafsirkan ayat 10-11 surah al-Infithar (82) ia menegaskan bahwa, “Malaikat adalah makhluk-makhluk gaib yang tidak dapat diketahui hakikatnya, namun barus dipercaya wujudnya.” Ketika menafsirkan ayat ini Syekh Muhammad Abduh sebagaimana diuraikan oleh Rasyid Ridha dalam tafsirnya a//Mandr, mengemukakan satu pendapat kontroversial. Ulama Mesir itu berpendapat bahwa tidak mustahil, tidak juga ada keberatan akal atau agama, untuk memahami apa yang dinamai oleh agama malaikat, dinamai oleh orang lain hukum-hukum alam. Malaikat menurut Abduh dilukiskan oleh al-Qur'an antara lain sebagai (Il S1 Jaka ) fa al-mudabbirat amran (QS. an-Nazi'at (79): 5) yakni yang mengatur segala urusan. Ini diperankan oleh hukum-hukum alam, sehingga tidak ada salahnya memahami malaikat atau dampak dari peranannya adalah dampak dari hukum-hukum alam. Di tempat yang sama Abduh juga menyebut tentang jiwa manusia, yang seringkali mengalami pertarungan, bagaikan dihadapkan pada satu pengadilan di mana ia harus memutuskan pilihan, baik atau buruk. Dorongan memilih yang baik lahir dari peran malaikat, dan yang buruk dari peran setan. Jika demikian, dalam pandangan Abduh tidak keliru juga jika malaikat atau peranannya dinamai pula dengan nurani manusia. Tentu saja — kalaupun pendapat Abduh ini diterima — kita tidak dapat memahami bahwa seluruh malaikat adalah sama hukum-hukum alam dan nurani manusia, atau bahwa dampak kerjanya hanya terbatas pada hukumhukum sebab dan akibat. Karena jika demikian, apa makna kehadiran malaikat Jibril membawa wahyu-wahyu al-Guran? Apakah kehadirannya itu cerminan dari nurani Nabi Muhammad saw? Kalau demikian apakah ini tidak akan mengantar kepada pernyataan bahwa al-Our'an adalah hasil renungan jernih dan nurani Nabi Muhammad saw? Tentu saja jangankan kita, Muhammad Abduh pun tidak berkata demikian. Kini jika Anda bertanya apa hakikat malaikat? Penulis cenderung untuk tidak membahas atau mendefinisikannya, karena dari al-Gur'an tidak ditemukan isyarat dekat atau jauh tentang hal ini. Nah, jika demikian, apa