Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
Surah al-Baqarah (2) Kelompok III ayat 34 ini biasanya disisipkan dalam benak pengucap atau pendengar dan pada akhir kalimatnya kata tida&, sehingga kalimat itu lengkapnya dalam benak berbunyi “Semua mahasiswa hadir tetapi dosen tidak (hadir).” Demikian juga dengan ayat di atas. Jika Anda menganut paham yang menyatakan bahwa Iblis termasuk jenis malaikat, maka tidak keliru bila kata 1//4 pada ayat di atas diterjemahkan kecuali. Penulis berpendapat bahwa Iblis tidak termasuk jenis malaikat, karena itu kata tetapi adalah yang penulis pilih sebagai terjemahannya. Iblis menolak sujud bukan dengan alasan bahwa sujud kepada Adam adalah syirik, seperti dugaan sementara orang yang sangat dangkal pemahamannya. Keengganannya bersumber dari keangkuhan yang menjadikan ia menduga dirinya lebih baik dari Adam. “Aku lebih baik darinya, Engkau ciptakan aku dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.” Demikian jawabannya ketika ditanya mengapa ia tidak sujud. “Apakah wajar saya sujud kepada apa yang Engkau ciptakan dari tanah?” (OS. al-Isra” (17): 61). Demikian dilukiskan jawabannya yang lain. Alhasil, dalam logika Iblis, tidak wajar makhluk yang lebih baik unsur kejadiannya bersujud kepada makhluk yang lebih rendah unsur kejadiannya. Kata (Ssst) istakbara terambil dari kata (3S ) kabura dengan penambahan dua huruf yaitu si» dan #4. Kedua huruf ini berfungsi menggambarkan betapa mantap dan kukuh keangkuhan itu. Dengan demikiarf, kata istakbara menunjukkan keangkuhan yang luar biasa. Bahasa Arab ketika bermaksud menggambarkan keangkuhan, selalu menggunakan penambahan huruf huruf seperti bentuk kata di atas. Kata (SG) takabbur, juga mengandung dua huruf tambahan yaitu ża’ pada awalnya dan ba’ pada pertengahannya yang kemudian digabung dengan huruf 44' yang asli padanya sehingga menjadi takabbar atau takabbur. Ini mengisyaratkan bahwa keangkuhan merupakan upaya seseorang untuk melebihkan dirinya dari pihak lain, kelebihan yang dibuat-buat lagi tidak pernah wajar disandangnya. Dari sini “keangkuhan” berbeda dengan “kebanggaan” atau “membaggakan diri”, karena yang membanggakan diri belum tentu menganggap dirinya lebih dari orang lain, bahkan boleh jadi saat itu dia masih tetap mengakui keunggulan pihak lain atau sama dengannya. Adapun keangkuhan, maka ia adalah membanggakan diri, ditambah dengan merendahkan pihak lain. Keangkuhan tidak terjadi kecuali jika pelakunya melihat dirinya memiliki kelebihan — baik benar benar ada maupun tidak — selanjutnya melihat orang lain tidak memiliki kelebihan, atau memiliki tetapi lebih rendah dari kelebihannya, kemudian melecehkan yang dinilainya lebih rendah itu.