Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
Kelompok III ayat 35 Surah al-Baqarah (2) Allah melarang mendekati, bukan sekadar melarang memakannya. Larangan ini menunjukkan kasih sayang Allah kepada Adam as. dan pasangannya serta anak cucu mereka. Allah swt. Maha Mengetahui bahwa ada kecenderungan manusia untuk ingin mendekat, lalu mengetahui, dan merasakan sesuatu yang indah dan menarik. Di sini, langkah awal segera dilarang-Nya, agar tidak mengundang langkah berikutnya. Jika diamati larangan-larangan al-Qur'an, ditemukan ada yang tertuju secara langsung kepada objek yang dilarang, dan ada juga yang lebih ketat lagi yaitu larangan mendekatinya. Biasanya larangan mendekati tertuju kepada hal-hal yang mengandung rangsangan kuat, seperti hubungan seks baik terhadap lawan seks yang haram (perzinahan) maupun yang halal (istri) tetapi ada kondisi yang melarangnya seperti dalam keadaan ber-itikdf. Larangan tersebut mengandung makna perintah untuk selalu berhatihati, karena siapa yang mendekati satu larangan, maka dia dapat terjerumus melanggar larangan itu. Di celah larangan itu tergambar pula bahwa tempat yang ditinggali Ådam as. dan pasangannya ketika itu bukanlah tempat abadi, karena dalam keabadian tidak ada larangan. Bukankah setan menggoda dan merayunya untuk memakan buah pohon itu, melalui rayuan dan janji akan memperoleh keabadian? Seandainya ketika itu dia duga ada keabadian, niscaya dia tidak akan dirayu oleh setan dengan keabadian. “Adam dan istrinya as. mendekat ke pohon walaupun pohon itu sudah demikian dekat kepadanya, karena ia ditunjuk oleh Allah dengan kata ini. Bahkan bukan hanya mendekat, mereka berdua walau tidak memakannya sampai kenyang, mencicipi buahnya sebagaimana dijelaskan dalam QS. alAraf (7): 22. Pohon apakah yang dilarang itu, dan buah apakah yang dicicipinya. Tidak dijelaskan oleh al-Qur'an, demikian juga Sunnah yang shahih. Karena itu, semua penjelasan yang berkaitan dengan jenis pohon atau buah adalah penjelasan yang tidak berdasar, bahkan tidak perlu dikemukakan. Anda juga boleh berkata bahwa larangan mendekati satu pohon dari sekian banyak pohon di kebun itu (surga) merupakan isyarat tentang sedikitnya larangan Allah dibanding apa yang diperbolehkan-Nya, serta isyarat bahwa hidup manusia harus disertai oleh larangan, karena tanpa larangan tidak akan lahir kehendak, dan tidak pula berbeda antara manusia dan binatang. Siapa yang hidup tanpa kehendak dan tidak mampu melaksanakan janji dan memenuhi syarat, maka ia adalah binatang, bukan manusia.