Loading...

Maktabah Reza Ervani

15%

Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000



Judul Kitab : Tafsir al Mishbah Jilid 1 - Detail Buku
Halaman Ke : 185
Jumlah yang dimuat : 623
« Sebelumnya Halaman 185 dari 623 Berikutnya » Daftar Isi
Arabic Original Text
Belum ada teks Arab untuk halaman ini.
Bahasa Indonesia Translation

Kelompok III ayat 37 Surah al-Baqarah (2) menerima taubat hamba-Nya, melebihi kegembiraan sang musafir ini.” Demikian sabda Nabi saw. sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim. Perangkaian kata at-/awwib dengan ar-rahim untuk memberi gambaran yang lebih sempurna karena pengampunan yang dianugerahan Allah itu, tidak terlepas dari rahmat kasih sayang-Nya. Tanpa kasih sayang itu, bisa saja Dia menghukum manusia atas kesalahan yang telah dilakukannya atau sekadar memperingan hukumnya. i Perlu dicatat untuk dicamkan, bahwa di dalam al-Qur'an tidak ditemukan bentuk jamak, yang menunjuk kepada Allah sebagai penerima atau pemberi taubat. Bahkan secara tegas, kata kerja yang menunjuk kepada penerimaan-Nya, dikemukakan dalam bentuk tunggal dan menunjuk kepada diri-Nya sendiri. Firman-Nya setelah mengutuk mereka yang menyembunyikan kebenaran: “Kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itu Aku menerima laubatnya dan Akulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang” (OS. al-Baqarah (2): 160). Mengapa Allah dalam hal taubat ini, menggunakan bentuk tunggal, sedang sekian banyak hal lainnya yang juga Pelakunya Allah, al-Qur'an menggunakan bentuk jamak? Misalnya ketika menceritakan penurunan dan pemeliharaan al-Qur'an: “Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al Qur'an, dah sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya” (QS. al-HHijr (15): 9). Hemat penulis, peggunaan bentuk tunggal dalam hal taubat, adalah karena tidak ada satu makhluk pun yang mempunyai wewenang atau terlibat dalam menerima atau menolak taubat. Ini hanya wewenang penuh Allah sendiri saja. Ketika hati Nabi Muhammad saw. sangat terpukul dengan sikap kaum musyrikin dalam perang Uhud, di mana paman beliau syahid secara sangat memilukan, dan beliau luka berlumuran darah, beliau bergumam, “Bagaimana mungkin satu kaum memperoleh kejayaan, padahal mereka telah membuat wajah Nabi mereka berlumuran darah, padahal dia mengajak mereka ke jalan Allah?” Allah Yang Maha Melihat dan Maha Mendengar, menegur beliau dengan firman-Nya: “Tak ada sedikit pun campur tanganmu dalam urusan mereka itu apakah Allah menerima taubat mereka, atau mengazab mereka, karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim” (OS. Al Imran (3): 128). Imam Ghazali berpendapat bahwa setiap langkah atau magiam atau stasiun menuju Allah swt., terdiri dari tiga unsur pokok, yaitu pengetahuan, kondisi psikologis dan aktivitas. Taubat adalah stasiun pertama. Ia pun memerlukan ketiga unsur tersebut. Taubat memerlukan pengetahuan tentang


Beberapa bagian dari Terjemahan di-generate menggunakan Artificial Intelligence secara otomatis, dan belum melalui proses pengeditan

Untuk Teks dari Buku Berbahasa Indonesia atau Inggris, banyak bagian yang merupakan hasil OCR dan belum diedit


Belum ada terjemahan untuk halaman ini atau ada terjemahan yang kurang tepat ?

« Sebelumnya Halaman 185 dari 623 Berikutnya » Daftar Isi