Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
Surah al-Baqarah (2) Kelompok IV ayat 40 dan Sesudahnya, niscaya kalau kamu memenuni janji-janji itu Aku penuhi pula janji-Ku kepada kamu, dengan memberi keselamatan dan kesejahteraan hidup di dunia serta ganjaran dan surga di akhirat nanti. Janganlah takut kepada siapa pun, dan hanya kepada-Ku-lah saja tidak kepada siapa pun kamu harus takut (tunduk).” Mengingat, dapat dilakukan dengan lidah maupun dengan hati, bahkan juga dengan perbuatan. Lawan dari mengingat dengan lidah adalah diam, lawan mengingat dengan kalbu adalah lupa. Sesuatu yang diingat adalah sesuatu yang telah pernah ada dalam benak, yang bisa jadi telah dilupakan, atau ia tetap terpelihara. Dari sini maka perintah mengingat berarti mempertahankan ingatan itu. Baik mengingat dengan lidah maupun mempertahankannya mengundang pengalaman sebagai konsekuensi dari ingatan itu, yakni mensyukurinya dalam arti menggunakan nikmat yang dianugerahkan itu sesuai dengan tujuan penganugerahannya. Nikmat yang diperintahkan untuk diingat oleh ayat ini, tentu saja yang pertama dan utama adalah nikmat yang paling pokok, yaitu nikmat petunjuk agama. Memang ditemukan banyak ayat al-Our'an yang menggunakan kata nikmat dengan maksud tersebut. Seperti QS. Al Imrin (3): 103, OS. al-M#'idah (5): 3, dan adh-Dhuha (93): 11. Ada juga yang memahami kata nikmat di sini dalam arti umum, yakni segala macam nikmatNya. Karena kata nikmat dalam ayat ini mereka pahami dalam kedudukan nama jenis, sehingga mencakup segala sesuatu yang dapat dinamai nikmat, atau karena kata "ikmat di sini dalam bentuk tunggal dan ma'rifah (definit) karena dikaitkan dengan Allah, maka ia bersifat umum menyeluruh. Nikmat adalah segala sesuatu yang positif yang diraih manusia. Nikmat-nikmat yang dimaksud antara lain apa yang diperoleh nenek moyang Bani Isra'il, berupa aneka anugerah, penyelamatan dari siksa Fir'aun dan malapetaka lainnya, serta pengampuan Allah atas berbagai dosa mereka, juga dengan banyaknya para nabi yang diutus dari kalangan Bani Isr#'il, jika dibanding dengan nabi yang diutus kepada umat umat yang lain. Perintah mengingat nikmat Allah swt. antara lain bertujuan mengikis habis rasa dengki dan iri hati yang menyelubungi jiwa Bani Isra'il. Mereka iri hati kepada Nabi Muhammad saw. setelah sebelumnya mereka mengharap nabi yang akan diutus adalah dari kelompok mereka. Dengan meng ingat nikmat, diharapkan seseorang akan mensyukuri nikmat tersebut dan merasa puas dengannya. Melupakan nikmat yang telah diperoleh, dan mengingat nikmat yang diperoleh orang lain, mengundang iri hati, sebaliknya mengingat