Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
Surah al-Baqarah (2) Kelompok IV ayat 53 memerintahkan mereka dengan berfirman: Dan ingat pulalah, ketika Kami berikan kepada Mis4 al-Kitab yakni Taurat dan al-Furgin yakni yang berfungsi sebagai pemisah antara kebenaran dan kebatilan, atau mukjizat atau bukti yang sangat nyata tentang kebenarannya, agar kamu mendapat petunjuk menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.” Al-furgdn terambil dari akar kata yang bermakna membedakan. Sesuatu yang tampil membedakan dua hal atau lebih dengan penampilan yang sangat jelas dan gamblang dinamai Furgin. Al-OGur'an dinamai a/-Furgdn. Mukjizat juga dinamai Furgdn. Apabila kita memahami kata tersebut dalam arti mukjizat, maka ayat ini menginformasikan, bahwa Nabi Musa as. telah dianugerahi dua hal, yaitu Kitab Suci Taurat dan mukjizat, antara lain tongkat beliau. Tongkat itu beliau gunakan sebagai bukti kebenaran, sekaligus berfungsi sebagai pembeda yang sangat jelas antara yang hak dan yang batil. Ini antara lain terlihat ketika Nabi Musa as. menghadapi tantangan Firaun dan para penyihirnya (baca OS. Thaha (20): 56-72). Tetapi, jika kata al-furgdn dalam ayat ini dipahami bukan dalam arti mukjizat, tetapi kitab suci, maka a/furgan adalah kitab Taurat itu sendiri, dan ketika itu huruf waxw yang menghubungkan antara kata a/-Kitdh dan al-Furgan tidak diterjemahkan dengan dan tetapi ia dalam arti penjelasan sehingga terjemahan yang tepat untuknya adalah yakni. Pendapat inilah yang didukung oleh banyak ulama, karena itu kita dapat mengatakan bahwa ayat ini merupakan lanjutan dari uraian tentang anugerah ruhaniah kepada Bani Isra'il. Ia dikemukakan untuk lebih memperjelas fungsi kitab suci itu, agar mereka memanfaatkannya sebagai pemisah yang hak dan yang batil, dan ini pada gilirannya mengantar mereka mendapat lebih banyak petunjuk. Berulang-ulang sudah ayat-ayat lalu mengajak Bani Isra'il. Dalam ayat-ayat itu terbaca bahwa Allah langsung berdialog dan mengajak mereka. Itu adalah suatu penghormatan, namun mereka enggan menyambut ajakan Ilahi. Karena itu, ayat berikut tidak lagi berbentuk ajakan langsung dari Allah swt. Ajakan kali ini datang dari pesuruh-Nya, yakni Nabi Misa as. Kita tidak meremehkan Nabi mulia itu, tetapi jika dibadingkan dengan panggilan Ilahi, yang disampaikan-Nya secara langsung maka tentu saja nilainya tidak dapat dipersamakan.