Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
Surah al-Baqarah (2) Kelompok V ayat 78 Kata (Ogal) ummiyyin mengandung arti orang-orang yang tidak memiliki pengetahuan tentang kitab suci atau bahkan mereka yang buta huruf. Ummiyyin terambil dari kata ($) umm, yakni ibu. Seakan-akan keadaan mereka dari segi pengetahuan sama dengan keadaannya ketika baru dilahirkan oleh ibunya. Ayat ini dapat merupakan alasan ketiga mengapa Nabi dan umat Islam diperingatkan agar jangan mengharap banyak menyangkut keimanan orang-orang Yahudi, yaitu karena ada di antara mereka tidak mengetahui alKitab yakni Taurat dan kandungannya, sehingga keadaan mereka tidak seperti yang mengetahui dari kitab suci Taurat bahwa Nabi Muhammmad saw. adalah utusan Allah. Jika hanya tidak mengetahui tentang hal itu, boleh jadi masih memungkinkan mereka beriman. Tetapi sebenarnya keadaan mereka lebih dari itu, sebagaimana bunyi lanjutan ayat yakni yang mereka ketahui atau yakini hanyalah amdni yakni angan-angan belaka. Kata (gbi) amani adalah bentuk jamak dari (Amal) umniyyah yang dapat berarti angan-angan, harapan-harapan kosong, dongeng-dongeng, atau kebohongan. Dapat juga berarti bacaan tanpa upaya pemahaman atau penghayatan. Seorang berbohong, karena dia mengharapkan sesuatu sesuai dengan apa yang diberitakannya. Harapan yang tidak tercapai juga dapat mendorong si pengharap berbohong atau membohongi dirinya sendiri dengan membayangkan yang tidak terdapat di dunia nyata. Keyakinan yang batil adalah kebohongan atau hal-hal yang dianggap oleh yang bersangkutan sebagai sesuatu yang hak dan benar padahal dia tidak demikian. Membaca sesuatu tanpa dipahami atau tanpa dihayati tujuannya sama saja dengan bohong. Begitulah kata amdnf pada akhirnya mengandung makna kebohongan. Demikianlah kelompok ammiyyin itu hanya memiliki harapan-harapan kosong yang tidak berdasar, misalnya bahwa yang masuk surga hanya orangorang Yahudi, atau bahwa mereka tidak disiksa di neraka kecuali beberapa hari. Mereka itu hanya percaya dongeng, takhayul dan khurafat yang diajarkan oleh pemuka agama mereka. Dalam sebuah riwayat dikemukakan bahwa sahabat Nabi saw., Ibn “Abbas menafsirkan kata wwmiyysin dalam arti tidak mengetahui makna pesanpesan kitab suci, walau boleh jadi mereka menghafalnya. Mereka hanya berangan-angan, atau amånî dalam istilah ayat di atas, yang ditafsirkan oleh Ibn Abbas dengan “sekadar membacanya”. Keadaan yang demikian itulah yang disebutkan oleh al-Qur'an dengan sepetti keledai yang memikul bukubuku (OS. al-Jumu'ah (62): 5).