Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
Surah al-Baqarah (2) Kelompok VIII ayat 125 “ Nabi Musa yang berdoa kepada Allah agar mengangkat Harun untuk membantunya (OS. Thaha (20J: 29-30). Kendati demikian, risalah kenabian di kalangan Bani Isra'1l tidak berlanjut pada keturunan Nabi Musa, tetapi pada keturunan Harun as. Ayat di atas juga mengisyaratkan bahwa kepemimpinan dan keteladan harus berdasarkan kepada keimanan dan ketakwaan, pengetahuan, dan keberhasilan dalam aneka ujian. Karena itu kepemimpinan tidak akan dapat dianugerahkan oleh Allah kepada orang-orang yang zalim, yakni berlaku aniaya. Apa yang digariskan oleh ayat ini, merupakan salah satu perbedaan yang menunjukkan ciri pandangan Islam tentang kepemimpinan, dan perbedaannya dengan pandangan-pandangan yang lain. Islam menilai bahwa kepemimpinan bukan hanya sekadar kontrak sosial, yang melahirkan janji dari pemimpin untuk melayani yang dipimpin sesuai kesepakatan bersama, serta janji ketaatan dari yang dipimpin kepada pemimpin, tetapi juga — dalam pandangan ayat ini — harus terjalin hubungan yang harmonis antara yang diberi wewenang memimpin dengan Tuhan, yaitu berupa janji untuk menjalankan kepemimpinan sesuai dengan nilai-nilai yang diamanatkanNya. Dari sini, dipahami bahwa ketaatan kepada pemimpin tidak dibenarkan, jika ketaatan itu bertentangan dengan nilai-nilai Ilahi. Wajar pula dicatat bahwa firman-Nya: («WI gags Ju Y) /4 yandlu ahdi aghsghalimin