Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
Kelompok VIII ayat 135 Surah al-Baqarah (2) Pn Ayat ini dapat dinilai berhubungan dengan ayat 130 surah ini yaitu firman-Nya: “Tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri” yakni ketika al-Gur'an mencela mercka karena enggan mengikuti ajaran Islam yang diwasiatkan oleh Nabi Ibrahim dan leluhur Bani Isra'il, maka kecaman dilanjutkan oleh ayat ini dengan menjelaskan keangkuhan mereka ketika masing-masing menyatakan bahwa: hanya agama yahudi atau agama Nasrani yang benar sedang selainnya keliru dan sesat dan karena itu masing-masing dan dengan gaya perintah menyatakan, “Jadilah penganut Yahudi.” Al-Bigai berpendapat bahwa ayat ini berhubungan dengan ucapanucapan mereka yang telah diungkap oleh ayat-ayat yang lalu. Antara lain ayat 111 yang menyatakan “Sekali-kah tidak akan masuk surga kecuali orangorang (yang beragama) Yahudi atgu Nasrani.” Demikian pendapat al-Biga'i. Dari sini — menurutnya ayat di atas menyatakan bahwa mereka, yakni orang Yahudi berkata, wahai umat Islam, jadilah penganut agama atau cara dan pandangan hidup orang Yahudi, dan orang Nasrani juga berkata jadilah penganut agama atau cara hidup orang Nasrani Menjadi Yahudi atau Nasrani tidak harus dalam arti menganut agama mereka, tetapi cukup menganut pandangan hidup atau mengikuti tata-cara kehidupan mereka, dalam bidang ekonomi, sosial budaya, dan sebagainya. Dengan demiktan, walaupun orang Yahudi tidak mengajak pihak lain untuk memeluk agamanya, tetapi ajakan untuk mengikuti cara hidup mereka sungguh amat jelas. Rasul saw. bersabda: “Kamu akan mengikuti jalan bidup orang-orang sebelum kamu, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sampai jika mereka masuk ke lubang biawak, kalian pun ikut masuk.” Yang beliau maksud dengan “orang-orang sebelum kamu” adalah orang Yahudi dan Nasrani. Menghadapi ajakan tersebut, Allah mengajarkan jawaban kepada Nabi-Nya Muhammad saw.: Katakanlah “Tidak! Tetapi kami mengikuti agama Ibrabim yang banif. Kata («ke») banif, biasa diartikan lurus atau cenderung kepada sesuatu. Kata ini pada mulanya digunakan untuk menggambarkan telapak kaki dan kemiringannya kepada telapak pasangannya. Yang kanan condong ke arah kiri, dan yang kiri condong ke arah kanan. Ini menjadikan manusia dapat berjalan dengan lurus. Kelurusan itu, menjadikan si pejalan tidak mencong ke kiri, tidak pula ke kanan. Ajaran Nabi Ibrahim as. adalah panff, tidak bengkok, tidak memihak kepada pandangan hidup orang-orang Yahudi yang