Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
Aan Kelompok X ayat 155 Surah al-Baqarah (2) ao cobaan, ia dapat terjadi dalam bentuk yang lebih besar daripada yang telah terjadi. Bukankah ketika mengalami setiap bencana, ucapan yang sering terdengar adalah “Untung hanya begitu....” Ia sedikit, karena cobaan dan ujan yang besar adalah kegagalan menghadapi cobaan, khususnya dalam kehidupan beragama. Ujian yang diberikan Allah sedikit. Kadarnya sedikit bila dibandingkan dengan potensi yang telah dianugerahkan Allah kepada manusia. Ia hanya sedikit, sehingga setiap yang diuji akan mampu memikulnya jika ia menggunakan potensi-potensi yang dianugerahkan Allah itu. Ini tidak ubahnya dengan ujian pada lembaga pendidikan. Soal-soal ujian disesuaikan dengan tingkat pendidikan masing-masing. Semakin tinggi jenjang pendidikan semakin berat soal ujian. Setiap yang diuji akan lulus jika ta mempersiapkan diri dengan baik, serta mengikuti tuntunan yang diajarkan. Patut dicamkan bahwa ayat sebelum ini mengajarkan shalat dan sabar. Jika demikian, yang diajarkan itu harus diamalkan sebelum datangnya ujian Allah ini. Demikian pula ketika ujian berlangsung, Itu sebabnya Rasul saw., sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad melalui sahabat Nabi saw. Hudzaifah Ibn al-Yaman, bahwa “Apabila beliau dihadapkan pada satu kesulitan/ujian, beliau melaksanakan shalat.” Karena itu pula ayat di atas ditutup dengan perintah, “Sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” Apakah bentuk ujian itu? Sedikit dari rasa takut, yakni keresahan hati menyangkut sesuatu yang buruk, atau yang hal-hal yang tidak menyenangkan yang diduga akan terjadi, sedikit rasa lapar, yakni keinginan meluap untuk makan karena perut kosong, tetapi tidak menemukan makanan yang dibutuhkan, serta kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Informasi Allah tentang “soal ujian” ini adalah nikmat besar tersendiri, karena dengan mengetahuinya kita dapat mempersiapkan diri menghadapi aneka ujian itu. Ujian diperlukan untuk kenaikan tingkat. Ujian itu sendiri baik. Yang buruk adalah kegagalan menghadapinya. Memang Allah tidak menjelaskan kapan dan dalam bentuk apa ketakutan itu — di sana letak ujiannya — seperti halnya siswa atau mahasiswa ketika diberi tahu mata pelajaran atau kuliah yang akan diujikan. Takut menghadapi ujian adalah pintu gerbang kegagalan, demikian juga ujian-ujian Ilahi. Menghadapi sesuatu yang ditakuti adalah membentengi diri dari gangguannya. Biarkan dia datang kapan saja, tetapi ketika itu Anda telah siap menjawab atau menghadapinya.