Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
Surah al-Baqarah (2) Kelompok XI ayat 166 karena orang-orang beriman mencintai-Nya tanpa pamrih. Cinta mereka lahir dari bukti-bukti yang mereka yakini serta pengetahuan tentang sifatsifat-Nya Yang Maha Indah. Anda boleh juga memahami kekuatan cinta orang beriman dibandingkan dengan cinta orang kafir, karena orang beriman taat dan tetap cinta kepada Allah serta memohon bantuan-Nya, baik dalam keadaan sulit maupun senang, sedang orang-orang musyrik tidak lagi mengarah kepada berhala-berhala jika mereka menghadapi kesulitan. Atau orang-orang mukmin tidak melupakan Allah swt. dalam keadaatt apapun, senang atau susah, sedang orang-orang kafir baru mengingat Allah ketika mereka mengalami kesulitan dan kalau kesulitannya telah teratasi mereka kembali lupa, seakan-akan mereka tidak pernah bermohon kepada-Nya. Maka sungguh berbeda mereka yang beriman dengan yang mempersekutukan Allah. Karena itu, hendaklah mereka yang menyembah selain Allah berhati-hati. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa pada hari Kiamat, bahwa semua kekuatan adalah kepunyaan Allah dan bahwa Allah amat pedih siksaan-Nya, niscaya mereka menyesal dan tidak akan mengambil tandingan-tandingan bagi Allah apalagi mencintai tandingan-tandingan itu. Mereka yang durhaka dan mempersekutukan Allah, ada yang mengajak kepada kedurhakaan dan menjadi pemimpinnya, dan ada juga yang hanya'menjadi pengikut-pengikut. Ayat berikut menguraikan apa yang akan terjadi antara para pemimpin dan yang dipimpin ketika itu. AYAT 166 LAI e abi DAA 3 Lai Gd y aya bi P 3 Emp “(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali.” Ayat ini menjelaskan hubungan antara pemimpin dengan yang dipimpin, kepemimpinan dan keikutan dalam kedurhakaan kepada Allah. Kalau tadinya — dalam kehidupan dunia ini — mereka menaruh harapan kepada para pemimpinnya, dan pemimpin mengandalkan yang dipimpin untuk meraih harapannya, tiba-tiba harapan itu sirna ketika siksa telah