Loading...

Maktabah Reza Ervani

15%

Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000



Judul Kitab : Tafsir al Mishbah Jilid 1 - Detail Buku
Halaman Ke : 453
Jumlah yang dimuat : 623
« Sebelumnya Halaman 453 dari 623 Berikutnya » Daftar Isi
Arabic Original Text
Belum ada teks Arab untuk halaman ini.
Bahasa Indonesia Translation

443 1 Kelompok XVI ayat 203 Surah al-Baqarah (2) La ps Ca” jemaah seperti dikemukakan di atas. Karena itu, lanjutan ayat di atas menyatakan, Dan bergikirlah dengan menyebut nama /Allah atau berzikirlah sambil melontar dalam beberapa hari yang berbilang, yaitu hari-hari tasyrig, barang siapa ingin cepat berangkat sesudah dua hari, setelah ia melontar dan setelah tergelincir matahari dalam pandangan Imam Syafi'i, atau baik sebelum maupun sesudahnya dalam pandangan mazhab Hanafi, maka tiada dosa baginya bila meninggalkan Mina pada hari itu, tetapi ia harus meninggalkannya sebelum matahari terbenam. Dan barang sidpa yang ingin menangguhkan keberangkatannya dari dua hari itu, maka tidak ada dosa pula baginya untuk tinggal hingga hari ketiga. Izin dan ketiadaan dosa adalah bagi orang yang bertakwa. Hari-hari Tasyrig adalah hari-hari mengeringkan daging kurban yang telah disembelih pada hari Nahar. Hari-hari dimaksud sesuai dengan bentuk jamak yang digunakan, adalah tiga hari, yaitu hari kesebelas, yang dinamai hari Oar, yakni hari keberadaan secara mantap di Mina, hari kedua belas yang dinamai hari Nafar Awal, yakni hari keberangkatan berbondongbondong dari Mina; dan hari ketiga belas Dzulhijjah, yang dinamai hari Nafar A Zham, yakni hari keberangkatan agung dari Mina. Selama hari-hari itu dan sehari sebelumnya, yaitu pada hari lebaran, dianjurkan banyak berzikir, paling tidak bertakbir setiap selesai shalat wajib, dan dianjurkan juga untuk makan dan minum (haram berpuasa), dengan demikian, bergabung pemenuhan kebutuhan jasmani dan rohani. Ada yang memahami perintah berzikir pada ayat ini bermakna melontar. Kata zikir yang digunakan di sini menurut penganut pendapat ini, guna mengisyaratkan bahwa lontaran jamarat hendaknya disertai dengan zikir, mengagungkan Allah, bukan melontar dengan emosi, seakan-akan yang dilontar benar-benar adalah setan. Jamarat pada hakikatnya hanyalah sasaran melempar yang dibuat oleh manusia, untuk melambangkan musuh abadi manusia, yaitu setan. Melontar yang dianjurkan adalah dengan menggunakan batu-batu kecil sebesar butir-butir jagung, memegangnya bukan dengan telapak tangan, tetapi memegang batu dengan mendempetkannya pada jari telunjuk dan ibu jari, kemudian melemparnya tanpa mengayunkan tangan, sambil membaca takbir, kemudian berdoa jika selesai seluruh lontaran. Demikian yang dicontohkan Rasul saw., dan demikian pula yang terbaik dilakukan. Betapapun juga, apakah makna perintah berzikir adalah zikir secara mutlak dalam berbagai bentuknya, atau melontar jamarat sambil berzikir,


Beberapa bagian dari Terjemahan di-generate menggunakan Artificial Intelligence secara otomatis, dan belum melalui proses pengeditan

Untuk Teks dari Buku Berbahasa Indonesia atau Inggris, banyak bagian yang merupakan hasil OCR dan belum diedit


Belum ada terjemahan untuk halaman ini atau ada terjemahan yang kurang tepat ?

« Sebelumnya Halaman 453 dari 623 Berikutnya » Daftar Isi