Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
Surah al-Fatihah (1) Kelompok I ayat 2 Ada tiga unsur dalam perbuatan yang harus dipenuhi oleh yang dipuji sehingga dia wajar mendapat pujian: 1) Indah (baik), 2) Dilakukan secara sadar, dan 3) Tidak terpaksa atau dipaksa. Kata al-hamdu, dalam surah al-Fatihah ini ditujukan kepada Allah swt. Ini berarti bahwa Allah dalam segala perbuatan-Nya telah memenuhi ketiga unsur yang disebutkan di atas. Pada kata (à awek) al-bamdu lillah) segala puji bagi Allah, huruf lam/ bagi yang menyertai kata Allah mengandung makna pengkhususan bagi-Nya. Ini berarti bahwa segala pujian hanya wajar dipersembahkan kepada Allah swt. Dia dipuji karena Dia yang menciptakan segala sesuatu dan segalanya diciptakan-Nya dengan baik serta dengan penuh “kesadaran”, tanpa paksaan. Kalau demikian, maka segala perbuatan-Nya terpuji dan segala yang terpuji merupakan perbuatan-Nya jua, sehingga wajar jika kita mengucapkan “Segala puji hanya bagi Allah semata.” Jika Anda memuji seseorang karena kekayaannya, maka yang terlebih dahulu harus dipuji adalah Allah yang menganugerahkan kepadanya kekayaan. Karena, yang dilakukan manusia tidak lain kecuali rekayasa dari bahan mentah yang telah dihamparkan Allah dialam semesta ini. Hasil-hasil produksi tidak lain hanya rekayasa bahan mentah yang diciptakan-Nya itu. Kalau demikian segala puji dalam bidang ini pun harus tertuju kepada-Nya. Jika Anda memuji kedermawanan seseorang, maka Allah yang lebih wajar Anda puji, karena apa yang disumbangkannya adalah dari anugerah Allah, bahkan kerelaannya menyumbang adalah karena Allah menggerakkan hatinya untuk itu. Kekuasaan yang dianugerahkan kepada seseorang demikian itu juga halnya. Secara tegas al-Qur'an memerintahkan Nabi saw. (dan kita semua) untuk berucap, Katakanlah: “Ya Allah Pemilik kekuasaan, Engkau menganugerahkan kekuasaan bagi siapa yang Engkau kehendaki, dan mencabut kekuasaan dari siapa yang Engkau kehendaki, Engkau muliakan siapa yang Engkau kehendaki dan merendahkan siapa yang Engkau kehendaki. Dalam gengaman tangan-Mu kebajikan. Sesungguhnya Engkau berkuasa atas segala sesuatu” (QS. ÀI ‘Imrân [3]: 26). Dengan al-hamdu lillåh si pengucap menyimpulkan bahwa segala sesuatu yang bersumber dati Allah adalah terpuji, walau perbuatan itu tidak sejalan dengan kepentingan si pengucap atau dia duga merugikannya Dugaan merugikan, atau penilain negatif itu, pada hakikatnya lahir dari keterbatasan pandangan manusia. Ulama berbeda pendapat tentang fungsi kalimat al-pamdu lillâh daiam ayat ini. Apakah ia merupakan berita tentang kewajaran Allah semata untuk