Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
Surah al-Fatihah (1) Kelompok I ayat 3 dikandung oleh kata ar-Rahmdn seyogiayanya merupakan rahmat yang khusus dan yang tidak dapat diberikan oleh makhluk yakni yang berkaitan dengan kebahagiaan ukhrawi, sehingga ar-Rahmdn adalah Tuhan Yang Maha kasih terhadap hamba-hamba-Nya, pertama dengan penciptaan, kedua dengan petunjuk hidayah meraih iman dan sebab-sebab kebahagiaan, selanjutnya yang ketiga dengan kebahagiaan ukhrawi yang dinikmati kelak, serta keempat adalah kenikmatan memandang wajah-Nya (di hari Kemudian). Pendapat Imam Ghazali di atas tidak memuasKan, karena dengan demikian, makhluk-makhluk lain yang tidak dibebani taklif atau katakanlah tumbuh-tumbuhan dan binatang sama sekali tidak tersentuh oleh rahmat-Nya yang dikandung oleh kata Rahmdn. Bukankah makhlukmakhluk itu tidak akan meraih surga apalagi memandang wajah-Nya kelak? Pendapat lain dikemukakan oleh mereka yang melakukan tinjauan kebahasaan, seperti dikemukakan sebelum ini bahwa Timbangan fa'lan biasanya menunjukkan kepada kesempurnaan dan atau kesementaraan, sedang timbangan /a7/ menunjuk kepada kesinambungan dan kemantapan. Karena itu Syekh Muhammad Abduh berpendapat bahwa Rahman adalah rahmat Tuhan yang sempurna tetapi sifatnya sementara, dan yang dicurahkan-Nya kepada semua makhluk. Kata ini dalam pandangan Abduh adalah kata yang menunjuk sifat f77// perbuatan Tuhan. Dia Rahman berarti Dia mencurahkan rahmat yang sempurna. Tetapi rahmat-Nya yanag ditunjuk ini bersifat sementara dan tidak langgeng. Ini antara lain dapat berarti bahwa Allah mencurahkan rahmat yang sempurna dan menyeluruh, tetapi tidak langgeng terus menerus. Rahmat menyeluruh dalam arti menyentuh semua manusia-mukmin atau kafir bahkan menyentuh seluruh makhluk di alam raya, tetapi karena ketidaklanggengan/kesementaraannya, maka ia hanya berupa rahmat di dunia saja. Bukankah rahmat di dunia menyentuh semua makhluk, tetapi dunia itu sendiri, begitu juga rahmat yang diraih di dunia tidak bersifat abadi? Adapun kata Rahim yang patronnya menunjukkan kemantapan dan kesinambungan, maka ia menujuk kepada sifat Dzat Allah, atau menunjukkan kepada kesinambungan dan kemantapan nikmat-Nya. Kemantapan dan kesinambungan hanya dapat wujud di akhirat kelak, di sisi lain rahmat ukhrawi hanya diraih oleh orang taat dan bertakwa. Katakanlah: “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?” Katakanlah: “Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari Kiamat.