Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
41 Kelompok I ayat 4 Surah al-Fatihah (1) m seorang fakir di sekelilingnya atau di negerinya kecuali dia berusaha untuk membantu dan menampik kefakirannya, dengan harta, kedudukan, atau berusaha melalui orang ketiga sehingga terpenuhi kebutuhannya. Kalau semua itu tidak berhail ia lakukan, maka bendklah ia membantunya dengan doa serta menampakkan rasa kesedihan dan kepe-dihan atas penderitaannya. (Itu semua) sebagai tanda kasih dan sayang dan dengan demikian ia bagaikan serupa dengannya dalam kesulitan dan kebutuhan. Kita juga dapat berkata bahwa seseorang yang menghayati bahwa Allah adalah ar-Rabmån, yakni Pemberi rahmat kepada makhluk-makhlukNya dalam kehidupan dunia ini, karena Dia Rahim, yakni melekat pada diti-Nya sifat rahmat, maka penghayat makna-makna itu akan berusaha memantapkan pada dirinya sifat rahmat dan kasih sayang, sehingga menjadi ciri kepribadiannya, selanjutnya ia tak akan ragu atau segan mencurahkan rahmat kasih sayang itu kepada sesama manusia tanpa membedakan suku, ras atau agama maupun tingkat keimanan, serta memberi pula rahmat dan kasih sayang kepada makhluk-makhluk lain baik yang hidup maupun yang mati. Ja akan menjadi bagai matahari yang tidak kikir atau bosan memancarkan cahaya dan kehangatannya, kepada siapa pun dan di manapun. Kalau pun terdapat perbedaan dalam perolehan cahaya dan kehangatan, maka itu lebih banyak disebabkan oleh posisi penerima bukan posisi pemberi, karena matahari selalu konsisten dalam perjalanannya serta memiliki aturan atau hukum-hukum yang tidak berubah. Itulah buah yang diharapkan dari bacaan ar-Rahman dan ar-Rahim. AYAT 4 g t $ ya ps Wy ‘Pemilik hari Pembalasan.” “Pemelihara dan Pendidik yang Rahman dan Rahim boleh jadi tidak memiliki (sesuatu). Sedang sifat ketuhanan tidak dapat dilepaskan dari kepemilikan dan kekuasaan. Karena itu kepemilikan dan kekuasaan dimaksud perlu ditegaskan. Inilah yang dikandung oleh ayat keempat ini, “Maliki yaum ad-din.” Demikian al-Biga4 menghubungkan ayat ini dan ayat sebelumnya. Thahir Ibn “Asyar menulis bahwa penempatan ayat ini setelah penyebutan sifat-sifat Allah swt. yang lalu, bukan sekadar untuk memaparkan