Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
3 u w “Kata 18 Kelompok II ayat 7 Surah al-Fatihah (1) Ig kelebihan yang diperoleh bila tidak dibarengi perolehannya dan pemanfaatannya dengan kebenaran dan kebajikan atau tuntunan agama akan tidak mempunyai nilai yang berarti. Jika kekayaan tidak dibarengi dengan kebenaran, maka suatu ketika “nikmat” itu akan menjadi “niqmat” (bencana). Demikian pula dengan nikmat-nikmat yang lain. Anak, kekayaan, kecantikan, kekuasaan semuanya dapat menjadi bencana bila tidak dibarengi dengan tuntunan agama. Sebaliknya, jika kini Anda miskin tetapi nikmat kebenaran dan keberagamaan telah Anda raih, maka yakinlah bahwa kemiskinan Anda tidak akan berarti, karena melalui kebenaran dan keberagamaan itu, Anda akan meningkat dan meningkat hingga akhirnya mencapai kebahagiaan dan kenikmatan abadi. “Semua malapetaka (kekurangan) ringan selama tidak berkaitan dengan agama,” demikian ucapan “Umar ra. Ghair al-maghdhhb “aldihim Kata (was!) al-maghdhib berasal dari kata (meat) ghadhah yang dalam berbagai bentuknya memiliki keragaman makna, namun kesemuanya mengesankan sesuatu yang bersifat keras, kokoh dan tegas. Singa, banteng, batu gunung, sesuatu yang merah padam (ingat wajah yang merah padam), kesemuanya digambarkan melalui akar kata ghadhabh. Oleh karena itu, a/ghadhab adalah sikap keras, tegas, kokoh dan sukar tergoyahkan yang diperankan oleh pelakunya terhadap objek disertai dengan emosi. Sikap itu apabila diperankan oleh manusia dinamai “amarah”. Tetapi bila diperankan oleh Tuhan, maka walaupun ia diterjemahkan dengan amarah atau murka namun maksudnya bukanlah seperti amarah makhluk yang bisanya lahir dari emosi. Dahulu para ulama salaf yakni yang hidup pada abad pertama dan kedua Hijrah enggan menafsirkan kata-kata seperti ini, tetapi ulama yang datang sesudah mereka memahaminya sambil menjauhkan dari Allah swt. segala sifat kekurangan dan sifat yang dapat disandang makhluk. Mereka memahaminya dalam arti kehendak-Nya untuk melakukan tindakan keras dan tegas terhadap mereka yang membangkang perintah-Nya. Dengan kata lain ta bermakna ancaman siksa yang puncaknya adalah yang bersangkutan pasti merasakan dijatuhkan kepada mereka yang mempersekutukan Allah dengan memasukkan dan mengekalkan mereka di neraka. Tingkat yang lebih rendah dari ghadab adalah tidak senang. Sejarah dan pengalaman sehari-hari membuktikan bahwa ketaatan kepada Allah swt. atau dengan kata lain melaksanakan kebenaran dan kebajikan, menghasilkan imbalan baik — kalau bukan pada saat itu, paling tidak pada akhirnya. Demikian pula pembangkangan terhadap kebenaran