Your donation is urgently needed to keep the server running.
هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم لدعم الخادم
Berdasarkan gambaran tersebut, jelaslah bahwa tidak ada penjelasan yang lebih terang, tidak ada hikmah yang lebih dalam, dan tidak ada perkataan yang lebih mulia daripada penjelasan yang digunakan seseorang untuk menantang suatu kaum yang pada masa itu merupakan para pakar retorika, orator, penyair, dan ahli sastra. Ia menantang setiap khatib, sastrawan, dan tukang sajak di antara mereka. Ia mematahkan logika mereka, berlepas diri dari agama mereka, dan menyeru mereka untuk mengikutinya serta mengakui bahwa ia adalah utusan Tuhan mereka kepada mereka.
Ia mengabarkan bahwa bukti kebenarannya dan hujah atas kenabiannya adalah apa yang dia bawa berupa penjelasan, hikmah, dan Al-Furqan, dengan bahasa yang serupa dengan lisan mereka dan logika yang maknanya sesuai dengan logika mereka. Namun, ia menyatakan bahwa mereka mustahil mampu mendatangkan yang serupa dengannya. Akhirnya, mereka semua mengakui kelemahan mereka dan tunduk membenarkan, kecuali orang-orang yang pura-pura bodoh, sombong, dan menutup mata. Orang-orang tersebut mencoba memaksakan diri melakukan apa yang mereka tahu mustahil bagi mereka.
Akibatnya, mereka justru menyingkap kelemahan akal dan kegagapan lisan mereka sendiri dengan mendatangkan igauan yang bahkan orang bodoh pun bisa membuatnya, seperti ucapan (Musaylimah): "Demi wanita-wanita yang menumbuk tepung, yang mengadoni adonan, yang memanggang roti, yang membuat sarid, yang menyuap satu suapan," dan kekonyolan serupa lainnya yang menyerupai pengakuan palsunya.