Thana’uhu kepada suatu kaum, pastilah ia diutus dengan bahasa kaum yang menerimanya. Dan setiap Kitab yang diturunkan kepada seorang Nabi, serta setiap risalah yang dikirim kepada suatu umat, pastilah diturunkan dengan bahasa kaum yang menerima kitab atau risalah tersebut. Maka berdasarkan apa yang telah kami uraikan, menjadi jelas bahwa Kitab Allah yang diturunkan kepada Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam adalah dengan lisan Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Karena lisan Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam adalah bahasa Arab, maka jelaslah bahwa Al-Quran itu berbahasa Arab. Hal ini pula yang dinyatakan oleh wahyu muhkam Tuhan kita dalam firman-Nya:
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ
"Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al-Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya." (Surah Yusuf: 2)
Dan firman-Nya:
وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ، عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ، بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ
"Dan sesungguhnya Al-Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, ia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas." (Surah Ash-Shu'ara: 192-195)
Apabila kebenaran apa yang kami sampaikan sudah nyata melalui bukti-bukti tersebut, maka wajib hukumnya makna-makna Kitab Allah yang diturunkan kepada Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam bersesuaian dengan makna-makna dalam bahasa Arab, serta teks lahiriahnya selaras dengan teks lahiriah bahasa Arab, meskipun Kitab Allah mengunggulinya dengan keistimewaan yang membedakannya dari seluruh perkataan dan penjelasan manusia sebagaimana telah kami sifatkan sebelumnya.
Jika kenyataannya demikian, maka jelaslah—mengingat dalam bahasa Arab terdapat gaya bahasa peringkasan (ijaz) dan penyingkatan (ikhtisar), penggunaan ungkapan implisit sebagai pengganti eksplisit, serta penggunaan sedikit kata untuk mewakili banyak makna pada kondisi tertentu; dan sebaliknya, terkadang menggunakan penjelasan panjang lebar, pengulangan (tikrar), menyebutkan makna secara tersurat dengan nama-namanya tanpa kiasan, atau terkadang secara tersirat; juga penggunaan ungkapan umum namun yang dimaksudkan adalah khusus, atau ungkapan khusus namun yang dimaksudkan adalah umum, penggunaan kiasan (metonimi) namun yang dimaksudkan adalah makna yang ditegaskan, dan penggunaan