وقفة مع آية من كتاب الله
Tadabbur Sejenak Surah Ali Imran ayat 26
Penulis: Dr. Amin bin ‘Abdullah asy Syaqawi
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Tadabbur Sejenak Surah Ali Imran ayat 26 ini masuk dalam Kategori Tadabbur al Quran
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله. وبعد: فنقفُ وقفةً يسيرةً مع آيةٍ من كتاب الله.
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah. Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Amma ba’du: Kita akan berhenti sejenak untuk mentadaburi satu ayat dari Kitabullah.
{قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ} [آل عمران: 26]
“Katakanlah: ‘Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan-Mulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu’.” (Surah Aali ‘Imran ayat 26)
يقول تبارك وتعالى: قل يا محمَّد معظِّمًا لربِّكَ، وشاكرًا له، ومفوِّضًا إليه، ومتوكِّلاً عليه: اللهم مالِكَ المُلْك، والمُلْكُ: قيل النبوَّة، وقيل: الغَلَبَة، وقيل: المال والعبيد، والصحيحُ الذي رجَّحه بعض المفسِّرين: أنه عامٌّ لما يصدق عليه اسم المُلْك من غير تخصيص.
Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: Katakanlah wahai Muhammad dalam keadaan mengagungkan Tuhanmu, bersyukur kepada-Nya, menyerahkan segala urusan kepada-Nya, dan bertawakal kepada-Nya: Wahai Allah Pemilik Kerajaan. *Al Mulk* (Kerajaan/Kekuasaan) di sini ada yang menafsirkan sebagai kenabian, ada yang menyebutkan sebagai kemenangan, dan ada pula yang menyebutkan sebagai harta dan budak. Namun yang shahih dan dikuatkan oleh sebagian mufasir adalah bahwa maknanya bersifat umum bagi segala sesuatu yang layak disebut sebagai kekuasaan tanpa pengkhususan.
فقوله: {تؤتي المُلْكَ مَنْ تشاءُ وتَنْزِعُ المُلْكَ مِمَّنْ تشاء}؛ أي: أنت المُعطي، وأنت المانِع، وأنت الذي ما شئتَ كان، وما لم تَشَأْ لم يكن، وأنت المتصرِّف في خَلْقِكَ، الفعَّال لما تُريدُ.
Maka firman-Nya: “Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki”; maknanya: Engkau adalah Dzat Yang Memberi, Engkau adalah Dzat Yang Menahan, Engkaulah Dzat yang apa pun yang Engkau kehendaki pasti terjadi, dan apa yang tidak Engkau kehendaki tidak akan terjadi. Engkaulah Yang Mengatur makhluk-Mu, dan Yang Melaksanakan apa pun yang Engkau inginkan.
قال ابن كثير – رحمه الله -: “ردَّ تعالى على مَنْ يحكم عليه في أمره؛ حيث قال: وقالوا – أي: الكفار – لولا نزل هذا القرآن على رجلٍ من القريتيْن عظيم، كالوليد بن المغيرة وغيره؛ قال الله ردًّا عليهم:
Ibnu Katsiir rahimahullah berkata: “Allah Ta’ala membantah orang yang hendak mengatur keputusan-Nya; di mana mereka—yakni orang-orang kafir—berkata: ‘Mengapa al Qur’an ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri ini (Makkah dan Thaif)’, seperti al Waliid bin al Mughirah atau yang lainnya. Allah menjawab mereka:
{أَهُمْ يَقْسِمُونَ رَحْمَتَ رَبِّكَ} [الزخرف:32]
“Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu?” (Surah az Zukhruf ayat 32)
أي: أَهُمُ الخُزَّان لرحمة الله، وبيدهم تدبيرها، فيُعطون النبوَّة والرسالة مَنْ يشاؤون، ويمنعونها عمَّن يشاؤون؟! فنحن نتصرَّف فيما خَلَقْنا كما نريد، بلا مانِع ولا مُدافِع، لنا الحكمة البالغة والحُجَّةُ التامَّة، وهكذا يُعطي النبوَّة لمن يريد؛ قال سبحانه:
Yakni: apakah mereka pemegang perbendaharaan rahmat Allah dan di tangan mereka pengaturannya, sehingga mereka memberikan kenabian dan risalah kepada siapa yang mereka kehendaki dan menahannya dari siapa yang mereka kehendaki?! Padahal Kamilah yang mengatur apa yang Kami ciptakan sesuai keinginan Kami, tanpa ada yang menghalangi atau menentang. Milik Kamilah hikmah yang mendalam dan hujjah yang sempurna. Demikian pula Allah memberikan kenabian kepada siapa yang Dia kehendaki; Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
{اللَّهُ أَعْلَمُ حَيْثُ يَجْعَلُ رِسَالَتَهُ} [الأنعام: 124]
“Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan-Nya” (Surah al An’aam ayat 124)
قوله تعالى: {بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِير} [آل عمران :26]. قال الشيخ عبدالرحمن بن سعدي: “أي: الخير كله منكَ، ولا يأتي بالحسنات والخيرات إلا الله، وأمَّا الشرُّ، فإنَّه لا يُضاف إلى الله، لا وَصْفًا ولا اسْمًا، ولكنه يدخل في مفعولاته، ويندرج في قضائه وقدره؛ فالخير والشرُّ داخلان في القضاء والقدر، فلا يقع في مُلْكِه إلاَّ ما شاءه، ولكن لا يُضاف إلى الله، فلا يُقال: بيدكَ الخيرُ والشرُّ، ولكن بيدك الخير؛ كما قال الله وقال رسوله”. اهـ[2].
Firman Allah Ta’ala: “Di tangan-Mulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu” [Aali ‘Imran: 26]. Syaikh ‘Abdurrahman bin Sa’di berkata: “Maknanya: segala kebaikan berasal dari-Mu, dan tidak ada yang mendatangkan berbagai kebaikan dan kemaslahatan kecuali Allah. Adapun keburukan, maka tidak boleh disandarkan kepada Allah, baik secara sifat maupun nama, namun ia termasuk dalam ciptaan-Nya dan masuk dalam qadha serta qadar-Nya. Maka kebaikan dan keburukan keduanya masuk dalam qadha dan qadar, tidak ada yang terjadi di dalam kekuasaan-Nya kecuali apa yang dikehendaki-Nya. Akan tetapi, keburukan tidak disandarkan kepada Allah, sehingga tidak diucapkan: ‘Di tangan-Mu kebaikan dan keburukan’, melainkan ‘Di tangan-Mu kebaikan’; sebagaimana yang difirmankan Allah dan disabdakan Rasul-Nya”. Selesai [2].
جاء عن علي بن أبي طالب – رضي الله عنه – عن رسول الله – صلى الله عليه وسلم – في دعائه في قيام الليل: أنه كان يقول:
Diriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Thaalib radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam doanya saat shalat malam, bahwasanya beliau bersabda:
((وَالخَيْرُ كُلُّهُ فِي يَدَيْكَ، وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ)) [3]
“Segala kebaikan berada di kedua tangan-Mu, dan keburukan tidak disandarkan kepada-Mu” [3]
تَأَدُّبًا مع الله تعالى. ومن فوائد الآيتَيْنِ الكريمتَيْنِ: أولاً: ما نَقَلَهُ ابنُ كثيرٍ في “تفسيره”: أنَّ فيها تنبيهًا وإرشادًا إلى شكر نعمة الله – تعالى – على رسوله – صلى الله عليه وسلم – وهذه الأُمَّة؛ لأن الله – تعالى – حَوَّلَ النبوَّة من بني إسرائيل إلى النبيِّ العربيِّ القُرَشِيِّ الأُمِّيِّ المكيِّ، خاتم الأنبياء على الإطلاق، ورسول الله إلى الثَّقَلَيْن،
Sebagai bentuk adab kepada Allah Ta’ala. Di antara faedah dari dua ayat yang mulia ini: Pertama: Apa yang dinukil oleh Ibnu Katsiir dalam “Tafsir”-nya: Bahwa di dalamnya terdapat peringatan dan petunjuk untuk mensyukuri nikmat Allah Ta’ala atas Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dan umat ini; karena Allah Ta’ala memindahkan kenabian dari Bani Israil kepada Nabi keturunan Arab, Quraisy, yang Ummi, dari Makkah, penutup para Nabi secara mutlak, dan utusan Allah bagi dua golongan (jin dan manusia).
الذي جمع الله فيه محاسِنَ مَنْ كان قَبْلَهُ، وخصَّهُ بخصائص لم يُعْطِهَا نبيًّا من الأنبياء ولا رسولاً، من العلم بالله وشريعته، وإطْلاعِه على الغيوب الماضية والآتية، وكَشْفِه له عن حقائق الآخِرة، ونشر أُمَّته في الآفاق، في مشارق الأرض ومغاربها، وإظهار دينه وشرعه على سائر الأديان والشرائع؛ فصلوات الله وسلامه عليه دائمًا إلى يوم الدِّين، ما تعاقَب اللَّيْلُ والنَّهار”[4].
Yang mana Allah mengumpulkan pada dirinya kebaikan orang-orang sebelum beliau, dan mengkhususkannya dengan keistimewaan yang tidak diberikan kepada nabi atau rasul mana pun, berupa ilmu tentang Allah dan syariat-Nya, diperlihatkan kepadanya hal-hal gaib masa lalu dan masa depan, disingkapkan kepadanya hakikat akhirat, serta penyebaran umatnya di berbagai penjuru bumi baik di timur maupun barat, serta kemenangan agama dan syariatnya di atas seluruh agama dan syariat lainnya. Shalawat dan salam Allah semoga senantiasa tercurah kepadanya hingga hari kiamat selama siang dan malam silih berganti [4].
ثانيًا: أن العزة لا تطلب إلا من الله – تعالى – وهي إنما تأتي بطاعته واجتناب معصيته؛ قال تعالى:
Kedua: Bahwasanya kemuliaan (*al ‘izzah*) tidak dicari kecuali dari Allah Ta’ala, dan ia hanya dapat diraih dengan menaati-Nya serta menjauhi maksiat kepada-Nya; Allah Ta’ala berfirman:
{مَن كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ} [فاطر: 10]
“Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya. Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya” (Surah Faathir ayat 10)
وقال تعالى:
Dan Allah Ta’ala berfirman:
{بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا * الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِن دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَيَبْتَغُونَ عِندَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا} [النساء: 138- 139]
“Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kemuliaan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya kemuliaan itu semuanya milik Allah” (Surah an Nisaa ayat 138-139)
وقال تعالى:
Dan Allah Ta’ala berfirman:
{وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ} [المنافقون: 8]
“Padahal kemuliaan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin” (Surah al Munaafiquun ayat 8)
Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah
Sumber : Alukah
Leave a Reply