Sudah Baligh Tapi Tidak Shaum Ramadhan, Wajib Qadha



من أفطر في رمضان وكان بالغا فعليه القضاء

Sudah Baligh Tapi Tidak Shaum Ramadhan, Wajib Qadha

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Sudah Baligh Tapi Tidak Shaum Ramadhan, Wajib Qadha ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Ibadah

السؤال:

Pertanyaan:

السلام عليكم..أنا أبلغ من العمر سبعة عشر عاما ولم أكمل صيام شهر رمضان… فماذا أفعل؟

Assalamu’alaikum. Saya berusia tujuh belas tahun dan tidak menyempurnakan puasa bulan Ramadan… apa yang harus saya lakukan?

الإجابــة:

Jawaban :

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أما بعد: فقد جعل الشارع البلوغ أمارة على كمال العقل لأن الاطلاع على أول كمال العقل متعذر فأقيم البلوغ مقامه، وللبلوغ علامات:

Segala puji bagi Allah, selawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para sahabatnya. Amma ba’du: Syariat telah menjadikan baligh sebagai tanda sempurnanya akal, karena mengetahui awal mula sempurnanya akal secara pasti adalah hal yang sulit, maka baligh dijadikan sebagai penggantinya. Baligh memiliki tanda-tanda:

الأولى: الاحتلام وذلك بخروج المني من الرجل أو من المرأة في يقظة أو نوم لقوله تعالى:

Pertama: Al-Ihtilam (mimpi basah), yaitu keluarnya mani dari laki-laki atau perempuan, baik dalam keadaan terjaga maupun tidur, berdasarkan Firman Allah Ta’ala :

( وإذا بلغ الأطفال منكم الحلم…) [النور: ٥٩].

“Dan apabila anak-anakmu telah sampai umur baligh…” [An-Nur: 59].

الثانية: الإنبات وهو: ظهور شعر خشن على العانة فإذا لم تظهر إحدى هاتين العلامتين يرجع بعد ذلك إلى العلامة الثالثة وهي البلوغ بالسن، وقد اختلف العلماء في منتهاه: فيرى الشافعية والحنابلة أن البلوغ بالسن يكون بتمام خمس عشرة سنة قمرية للذكر والأنثى ، وهو قول في مذهب مالك ، لخبر ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قال :

Kedua: Al-Inbat, yaitu tumbuhnya rambut kasar di sekitar kemaluan. Jika salah satu dari dua tanda ini tidak muncul, maka setelah itu merujuk pada tanda ketiga, yaitu baligh berdasarkan usia. Para ulama berbeda pendapat mengenai batas usianya: Madzhab Syafi’i dan Hambali berpendapat bahwa baligh berdasarkan usia adalah dengan sempurnanya umur lima belas tahun qamariyah bagi laki-laki maupun perempuan, dan ini adalah salah satu pendapat dalam madzhab Malik, berdasarkan riwayat Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata :

” عرضت على النبي ِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَُ يَوْمَ أُحُدٍ َوأناَ ابْنُ أَرْبَعَ عَشْرَةَ سَنَةً فَلَمْ يُجِزْنِي ولم يرني بلغت ، وعرضت عليه يَوْمَ الْخَنْدَقِ وَأَنَا ابْنُ خَمْسَ عَشْرَةَ سَنَةً فَأَجَازَنِي ورآني بلغت” متفق عليه.

“Aku diajukan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada saat perang Uhud ketika aku berumur empat belas tahun, namun beliau tidak mengizinkanku (berperang) dan tidak memandangku telah baligh. Kemudian aku diajukan kepada beliau pada saat perang Khandaq ketika aku berumur lima belas tahun, lalu beliau mengizinkanku dan memandangku telah baligh.” (Muttafaq ‘alaih).

ويرى أبو حنيفة أن البلوغ بالسن يكون بثماني عشرة سنة للذكور وسبعة عشرة سنة للإناث. ودليل ذلك قوله تعالى:

Abu Hanifah berpendapat bahwa baligh berdasarkan usia adalah pada umur delapan belas tahun bagi laki-laki dan tujuh belas tahun bagi perempuan. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala :

( ولا تقربوا مال اليتيم إلا بالتي هي أحسن حتى يبلغ أشده) [الإسراء:٣٤]

“Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, sampai ia mencapai usia dewasa (asyuddahu).” [Al-Isra: 34].

قال ابن عباس: الأشد: ثماني عشرة سنة. قالوا: الأنثى أسرع بلوغاً فنقصت سنة.

Ibnu Abbas berkata: “Al-Asyud” adalah delapan belas tahun. Mereka (ulama Hanafi) berpendapat: Perempuan lebih cepat mencapai baligh, maka dikurangi satu tahun.

وعلى هذا فالذي يظهر والله أعلم هو أن قضاء رمضان واجب عليك لأنك إن كنت قد احتلمت أو نبت لك شعر خشن فالأمر واضح ووجوب القضاء عليك مجمع عليه، وإن كنت لم تحتلم ولم ينبت لك شعر فبلوغك سن الخامسة عشرة كاف في التكليف فالأخذ به أحوط لأنه هو مذهب الشافعي وأحمد ورواية عن مالك ، كما تقدم، ولأن الدليل فيه قوي وهو حديث ابن عمر الثابت في الصحيح وقد تقدم.

Berdasarkan hal ini, maka yang nampak—wallahu a’lam—adalah mengqadha Ramadan wajib bagimu. Karena jika engkau telah mengalami mimpi basah atau telah tumbuh rambut kasar, maka perkaranya sudah jelas dan kewajiban mengqadha bagimu telah disepakati (ijma’). Namun jika engkau belum mimpi basah dan belum tumbuh rambut tersebut, maka sampainya usiamu pada lima belas tahun sudah cukup untuk menetapkan beban syariat (taklif). Mengambil pendapat ini lebih berhati-hati (ahwath) karena ini merupakan madzhab Syafi’i, Ahmad, dan satu riwayat dari Malik sebagaimana telah dijelaskan, serta karena dalilnya kuat yaitu hadis Ibnu Umar yang tsabit (tetap) dalam kitab Shahih.

إذا تقرر هذا وكان إفطارك بسبب جماع في نهار رمضان فيلزمك مع القضاء الكفارة، وإن كان بغير ذلك وتعمدت فلا يلزمك إلا التوبة والقضاء، وإن كنت قد أفطرت لعذر فلا يلزمك إلا القضاء فقط. وإذا أخرت هذا القضاء حتى جاء عليك رمضان الثاني فيلزمك مع القضاء كفارة التأخير، وهي إطعام مسكين عن كل يوم أخرت قضاءه لغير عذر. والله أعلم.

Apabila hal ini telah ditetapkan: jika pembatalan puasamu disebabkan oleh hubungan intim di siang hari Ramadan, maka engkau wajib mengqadha beserta membayar kafarat. Jika disebabkan hal lain dan dilakukan dengan sengaja, maka engkau hanya wajib bertaubat dan mengqadha. Jika engkau berbuka karena adanya uzur, maka engkau hanya wajib mengqadha saja. Dan jika engkau menunda qadha ini hingga datang Ramadan berikutnya, maka engkau wajib mengqadha disertai kaffarah ta’khir (denda keterlambatan), yaitu memberi makan satu orang miskin untuk setiap hari yang engkau tunda qadhanya tanpa uzur. Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.