Tidak Mengetahui Kewajiban Puasa, Tetap Wajib Mengqadha



الجاهل بفريضة الصيام يقضي ما فاته

Orang yang Tidak Mengetahui Kewajiban Puasa, Tetap Wajib Mengqadha

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Orang yang Tidak Mengetahui Kewajiban Puasa, Tetap Wajib Mengqadha ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Ibadah

السؤال:

Pertanyaan:

امرأة عاشت طفولتها في بلاد هي عنها غريبة و لم تكن تعرف الصيام معرفة تامة فهي لم تصم رسمياً حتى بلغت سن (18 سنة ) ولكنها عندما كبرت تعلقت بالإسلام أكثر وأحست بالذنب على ما فات وقد قدرت عمرها بأنها قد بلغت و عمرها (11 سنة ) فصامت شهراً و دفعت عليه 30 ديناراً ليبياً ولكنها الآن بصحة لا تسمح لها بالصيام فما الحكم في ذلك علماً أن مرضها لا يمنعها من صيام رمضان أفتونا جزاكم الله عنا خيراً

Seorang wanita menghabiskan masa kecilnya di negeri yang asing baginya dan tidak mengetahui tentang puasa secara sempurna, sehingga ia tidak berpuasa secara resmi hingga mencapai usia (18 tahun). Namun, ketika ia beranjak dewasa, ia menjadi lebih terikat dengan Islam dan merasa bersalah atas apa yang telah lalu. Ia memperkirakan bahwa ia telah baligh pada usia (11 tahun). Kemudian ia berpuasa selama satu bulan dan membayar 30 Dinar Libya untuk itu. Namun sekarang kesehatannya tidak memungkinkan baginya untuk berpuasa (mengqadha), maka apa hukum dalam hal tersebut, mengingat penyakitnya tidak menghalanginya untuk menjalankan puasa Ramadhan (saat ini)? Berikanlah fatwa kepada kami, semoga Allah membalas kalian dengan kebaikan.

الإجابــة:

Jawaban :

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد: ‏فلتعلم هذه الأخت أن صيام رمضان ركن من أركان الإسلام ودعيمة من دعائمه كما ‏ثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال:

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para sahabatnya. Amma ba’du: Ketahuilah wahai saudari, bahwa puasa Ramadhan adalah salah satu rukun Islam dan salah satu pilar-pilarnya, sebagaimana telah tetap dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda:

“بني الإسلام على خمس: شهادة أن لا إله إلا ‏الله وأن محمدا رسول الله صلى الله عليه وسلم، وإقام الصلاة، وإيتاء الزكاة، والحج، وصوم ‏رمضان” متفق عليه

“Islam dibangun di atas lima perkara: Syahadat bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan salat, menunaikan zakat, haji, dan puasa Ramadhan” (Muttafaq ‘alaih).

كما أن الصيام من فروض الأعيان التي يجب على كل مسلم أو ‏مسلمة أن يبادر إلى تعلم حكم الله فيها، وأن يحافظ عليها ويحرص على أدائها، ثم إن على ‏هذه السيدة أن تتوب إلى الله تعالى مما حصل منها من تفريط في هذه الفريضة العظيمة، ‏وأن تحافظ عليها فيما بقي من عمرها، ما لم يمنعها المرض من ذلك، عسى الله أن يكفر ‏عنها ما مضى، فقد ثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال:

Sebagaimana puasa termasuk kewajiban fardu ain yang wajib bagi setiap Muslim atau Muslimah untuk segera mempelajari hukum Allah di dalamnya, serta menjaganya dan bersemangat dalam menunaikannya. Kemudian, wanita tersebut harus bertaubat kepada Allah Ta’ala atas kelalaian yang terjadi pada dirinya dalam kewajiban yang agung ini, dan menjaganya di sisa umurnya selama penyakit tidak menghalanginya untuk melakukan hal itu. Semoga Allah menghapuskan (dosa) apa yang telah lalu, karena telah tetap dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda:

” من صام رمضان إيماناً ‏واحتساباً غفر له ما تقدم من ذنبه” متفق عليه.‏

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni baginya dosa-dosanya yang telah lalu” (Muttafaq ‘alaih).

وعليها أن تقضي ما فاتها من صيام ولتبادر إلى ذلك قدر ما تستطيع. وإن كانت الآن في ‏ظروف لا تسمح لها بالصيام فلتتحر حتى تكون مستطيعة لذلك. ولا حرج في أن لا توالي ‏الصيام، بل تصوم أياماً ثم تفطر، وهكذا حتى ييسر الله لها قضاء ما عليها من صيام، ولا ‏بأس كذلك أن تتحين الفترات التي ليست شديدة الحر إن كان ذلك مما يساعدها على ‏الصيام، ثم إن عليها أن تطعم – مع القضاء- عن كل يوم أفطرته مداً من طعام تدفعه ‏لمسكين. لتفريطها في القضاء، والمد هو ما يساوي سبعمائة وخمسين غراماً.‏

Dan ia wajib mengqadha puasa yang telah terlewat dan segera melakukannya semampu mungkin. Jika saat ini ia berada dalam kondisi yang tidak memungkinkannya untuk berpuasa, maka hendaknya ia menunggu sampai ia mampu melakukannya. Tidak ada halangan baginya untuk tidak melakukan puasa secara berturut-turut, tetapi ia bisa berpuasa beberapa hari kemudian berbuka (tidak puasa), demikian seterusnya sampai Allah memudahkan baginya untuk mengqadha puasa yang menjadi kewajibannya. Tidak mengapa juga baginya untuk memilih waktu-waktu yang tidak terlalu panas jika hal itu dapat membantunya untuk berpuasa. Kemudian, ia juga wajib memberi makan—bersamaan dengan qadha—untuk setiap hari yang ia tinggalkan sebanyak satu mud makanan yang diberikan kepada orang miskin, karena kelalaiannya dalam mengqadha (menunda hingga melewati Ramadhan berikutnya). Satu mud adalah setara dengan tujuh ratus lima puluh gram.

أما الدنانير التي دفعتها عن الشهر الذي قضته فإن كان كل دينار منها يساوي قيمة مد ‏الطعام أو أكثر، فنرجو أن يكون ذلك مجزئاً عنها، وإن كان أقل من قيمته فعليها أن تدفع ‏ثلاثين مداً عن أيام ذلك الشهر. ونرجو أن تطلع على فتاوى لنا متقدمة في هذا الموضوع  في هنا : 

Adapun dinar yang ia bayarkan untuk bulan yang telah ia qadha tersebut, jika setiap dinarnya setara dengan nilai satu mud makanan atau lebih, maka kami berharap hal itu sudah mencukupi baginya. Namun jika nilainya kurang dari itu, maka ia wajib membayar tiga puluh mud untuk hari-hari di bulan tersebut. Kami berharap Anda dapat meninjau fatwa-fatwa kami terdahulu mengenai topik ini disini :

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.